Home / KAJIAN / KOMUNIKASI MASSA / RETORIKA DAN POLITIK

RETORIKA DAN POLITIK

Pengertian Retorika

Retorika atau ilmu komunikasi adalah cara pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu pengetahuan atau metode yang teratur atau baik. Berpidato, ceramah, khutbah juga termasuk kajian retorika. Cara-cara mempergunakan bahasa dalam bentuk retorika seperti pidato tidak hanya mencakup aspek-aspek kebahasaan saja tetapi juga mencakup aspek-aspek lain yang berupa penyusunan masalah yang digarap dalam suatu susunan yang teratur dan logis adanya fakta-fakta yang meyakinkan mengenai kebenaran masalah itu untuk menunjang pendirian pembicara.

Aristoteles, murid Plato yang paling cerdas melanjutkan kajian retorika ilmiah. Ia menulis tiga jilid buku yang berjudul De Arte Rhetorica. Dari Aristoteles dan ahli retorika klasik, kita memperoleh lima tahap penyusunan pidato: terkenal sebagai Lima Hukum Retorika (The Five Canons of Rhetoric).

Tradisi retoris dimulai dari retorika sofis pada masa Yunani Kuno pada akhir abad ke-5 SM. Digalakkan oleh Protagoras, Gorgias, dan Isokrates, retorika sofis mengajarkan keterampilan berbahasa [terutama berpidato] di depan publik dengan maksud untuk memenangkan tujuan politik tertentu melalui tuturan [lisan]. Intinya, retorika merupakan kelihaian berbahasa dalam memainkan ulasan mengenai konteks tertentu untuk mencapai tujuan politik. Retorika sofis terlalu mementingkan pencapaian tujuan tanpa mengutamakan kebenaran sehingga tereduksi dalam cara-cara debat kusir atau bersilat lidah. Retorika jenis ini seringkali muncul dalam debat-debat politik, iklan, propaganda, pernyataan politik, maupun kampanye partai.

Plato mengecam retorika sofis sebagai suatu upaya manipulasi opini public dan mengabaikan kaidah-kaidah pencapaian kebenaran. Retorika sofis tidak menjadikan kebenaran sebagai sarana untuk membentuk opini public melainkan mereduksinya sekedar kecakapan bahasa untuk memenangkan tujuan politik. Di sisi lain, Aristoteles jua menganggap bahwa retorika sofis tidak mampu membangun suatu peradaban manusia yang beradab karena mengabaikan nilai-nilai kebenaran tersebut.

Melalui Rhetoric, Aristoteles bermaksud untuk mengendalikan hakikat retorika sebagai sebuah kecakapan [kekuatan] berbahasa sebagai sarana persuasif untuk memecahkan masalah secara objektif, sistematis, dan alternatif. Retorika Aristotelian adalah dalam mana suatu persoalan menjadi wacana kritis, suatu habits of techne untuk memandu publik mengutamakan kebenaran untuk mencapai tujuan politiknya. Output-nya adalah tercipta masyarakat yang beradab dalam arti yang sebenarnya yaitu masyarakat yang cinta kebenaran dalam hidupnya.

Retorika (dari bahasa Yunani ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan  dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen (logo), awalnya Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The Rhetoric dengan judul ‘Grullos’ atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum ialah seni manipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, kepercayaan dan pengharapan mereka.

Awalnya Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The Rhetoric dengan judul ‘Grullos’ atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum ialah seni manipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, keprcayaan dan pengharapan mereka.

Itu yang dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau tertulis, bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (dengan definisi yang sudah disebutkan diatas) dan praktik kontemporer dari retorika yang termasuk analisa atas teks tertulis dan visual.

Dalam doktrin retorika Aristoteles terdapat tiga teknis alat persuasi politik yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. retorika deberelatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. retorika forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran memfokuskan pada epidetik, wacana memuji atau penistaan dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun gagasan. Oleh karena itu suatu bentuk komunikasi yang ingin disampaikan secara efektif dan efisien akan lebih ditekankan pada kemampuan berbahasa secara lisan. Suatu komunikasi akan tetap bertitik tolak dari beberapa macam prinsip.

Prinsip-prinsip dasar itu adalah sebagai berikut :

Penguasaan secara aktif sejumlah besar kosakata bahasa yang dikuasainya. Semakin besar jumlah kosa kata yang dikuasai secara aktif semakin besar kemampuan memilih kata-kata yang tepat dan sesuai untuk menyampaikan pikiran. Penguasaan secara aktif kaidah-kaidah ketatabahasaan yang memungkinkan pembicara menggunakan bermacam-macam bentuk kata dengan nuansa dan konotasi yang berbeda-beda.

Mengenal dan menguasai bermacam-macam gaya bahasa dan mampu menciptakan gaya yang hidup dan baru untuk lebih menarik perhtian pendengar dan lebih memudahkan penyampaian pikiran pembicara. Memiliki kemampuan penalaran yang baik sehingga pikiran pembicara dapat disajikan dalam suatu urutan yang teratur dan logis.

Urgensi Ilmu Komunikasi atau Retorika Bagi Calon Pemimpin Setiap calon selain ia harus berwawasan luas juga dituntut harus mempunyai keterampilan berkomunikasi atau berbicara. Keterampilan tersebut dapat diperoleh melalui latihan yang sistematis, terarah dan berkesinambungan. Tanpa latihan, kepasihan berbicara atau pidato tidak dapat tercapai. Disamping itu, calon pemimpin juga harus mengetahui ciri-ciri pembicara yang ideal.

Pengetahuan tentang ciri-ciri pembicara yang baik sangat bermangaat bagi mereka yang sudah tergolong pembicara yang kurang baik dan bagi pembicara dalam tarap belajar. Bagi golongan pertama, pengetahuan tersebut dapat digunakan sebagai landasan mempertahankan, menyempurnakan atau mengembangkan keterampilan berbicara atau pidato yang sudah dimilikinya. Bagi golongan kedua yakni calon pemimpin.

Hal itu sangat baik dipahami dan dipalikasikan sehingga dapat menghilangkan kebiasaan buruk yang selama ini mungkin dilakukan secara tidak sadar. Istilah politik berasal dari kata Polis (bahasa Yunani) yang artinya Negara Kota. Dari kata polis dihasilkan kata-kata, seperti:

  • Politeia artinya segala hal ihwal mengenai Negara.
  • Polites artinya warga Negara.
  • Politikus artinya ahli Negara atau orang yang paham tentang Negara atau negarawan.
  • Politicia artinya pemerintahan Negara.

Secara umum dapat dikatakan bahwa politik adalah kegiatan dalam suatu system politik atau Negara yang menyangkut proses penentuan tujuan dari system tersebut dan bagaimana melaksanakan tujuannya. Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya. Kekuasaan yaitu kemampuan sesorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok sesuai dengan keinginan dari pelaku.

Pembagian atau alokasi adalah pembagian dan penjatahan nilai-nilai dalam masyarakat. Jadi, politik merupakan pembagian dan penjatahan nilai-nilai secara mengikat. Sistem pilitik suatu Negara selalu meliputi 2 suasana kehidupan, yaitu: Suasana kehidupan politik suatu pemerintah (the Govermental political sphere), Suasana kehidupan politik rakyat (the sociopolitical sphere).

Suasana kehidupan politik pemerintah dikenal dengan istilah suprastruktur politik, yaitu bangunan “atas” suatu politik. Pada suprastruktur politik terdapat lembaga-lembaga Negara yang mempunyai peranan penting dalam proses kehidupan politik (pemerintah). Suasana kehidupan politik pemerintahan ini umumnya dapat diketehuai dalam UUD atau konstitusi Negara yang bersangkutan. Suprastruktur politik Negara Indonesia meliputi MPR, DPR, Presiden, MA, BPK, dan DPA. Suasana kehidupan politik rakyat dikenal istilah “Infrastruktur politik” yaitu bangunan bawah suatu kehidupan politik, yakni hal-hal yang bersangkut paut dengan pengelompokan warga Negara atau anggota masyarakat ke dalam berbagai macam golongan yang biasa disebut sebagai kekuatan sosial politik dalam masyarakat.

Infrastruktur politik mempunyai 5 unsur diantaranya:

  • Partai politik
  • Kelompok kepentingan
  • Kelompok penekan
  • Alat komunikasi politik
  • Tokoh politik.

Retorika sendiri adalah seni berbicara yang di jadikan proses negosiasi dalam mempengaruhi khalayak . Dengan demikian, Retorika politik berbeda dengan propaganda dan periklanan dalam hal-hal yang penting , Retorika adalah komunikasi dua arah satu kepada satu bukan satu kepada banyak, lebih-lebih ia bekerja melalui hubungan internasional yang inhernan, yang mempertalikan orang bukan melalui orang-orang sebagai anggota kelompok (propaganda) atau individu-individu yang anonim (periklanan), Retorika juga bersandar kepada mekanisme yang berbeda dalam mencapai ketertiban sosial, bila propaganda melibatkan mekanisme kontrol sosial dan periklanan mengandalkan keselektifan konvergen, retorika politik adalah suatu proses yang memungkinkan terbentuknya masyarakat melalui negosiasi.

Tipe-tipe retorika politik

Dalam pengklasifikasikan jenis-jenis retorika politik kita hampir tidak dapat memperbaiki tipologi Aristoteles dalam karyanya, Retorika dia mengidentifikasi tiga cara pokok – Deliberatif, Forensik dan Demonstratif .

Retorika Forensik adalah yuridis, ia berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukan bersalah atau tidak bersalah pertanggung jawaban atau hukuman dan ganjaran, settinganya yang biasa adalah ruang pengadilan, tetapi terjadi di tempat lain. Pemerikasaan pada musim panas tahun1974 di depan Komite Yuridis dari parlemen mengenai kemungkinan didakwanya Presidan Richart Nixon memberi peluang bagi wacana forensik, presi , seperti semua acara di depan badan pengaturan – pemerikasaan komisi pengaturan nuklir untuk mengizinkan pembangunan fasilitas nuklir, pemerikasaan dewan perhubungan perburuan nasioanal mengenai perselisihan buru manajemen dan yang lainya .

Retorika Demonstratif adalah epideiktik , wacana yang memuji dan menjatuhkan , tujuannya adalah untuk memperkuat sifat baik dan sifat buruk seseorang , suatu lembaga , atau gagasan . Kampanya politik penuh dengan retorika demonstratif seperti satu pihak menantang kualifikasi pihak lain bagi jabatan di dalam pemerintahan . Dukungan editoral oleh surat kabar , majalah , televisi dan radio juga mengikuti garis demostratif , memperkuat sifat-sifat positif kandidat yang di dukung dan sifat-sifat negatif lawanya .

Retorika Aristores mengajukan bahwa satu jenis retorika saja tidak akan memadai untuk mempersuasi orang dalam segala situasi, Misalnya para anggota DPR RI saling caci maki, berantem dan membuat kegaduhan pada siding paripurnaq dalam dua periode belakangan. Saling tidak kesependapat keram muncul dalam situasi dan pada khalayak yang tidak sepatutnya, seperti kegaduhan dalam rapat paripurna mengenai kasus century pada tahun 2010 yang lalu perilaku anggota DPR RI dari beberapa fraksi sangat tidak mencerminkan sebgaai anggota Dewan Yang Terhorman yang seharusnya berkomunikasi dengan etika moral yang dapat dicontoh oleh seluruh masyarakat Indonesia. Perilaku anggota DPR RI dalam siding paripurnaa saat itu layaknya penonton bola atau permainan lainnyta yang saling teriak, menyela dll sehingga menimbulkan kegaduhan.

Cara Mempengaruhi Khalayak

Khalayak merupakan raja bagi kesuksesan sebuah acara atau perhelatan. Khalayaklah yang cenderung menentukan sukses tidaknya sebuah acara yang diselenggarakan. Sebaik apapun persiapan yang sudah dilakukan namun jika khalayak tidak memeadai maka acara tersebut tidak akan dikatakan sukses. Demikian juga dengan kampanye politik, keberadaan audience sangatlah penting dan yang menentukan apakah pesan yang dismapaikan ada yang mendengarkan atau tidak, sehingga dapat diprediksi efek dari pesan yang disampaikan.

Pengelolaan khalayak menmbutuhkan perencanaan yang baik supaya khalayak menjadi bagian dari aktivitas yang dilakukan. Khalayak yang beragam jenisnya, general, pemerhati dan elit, memerlukan upaya maksimal dalam proses pembentukan opini public. Pada tahap ini, pembicara menggali topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui metode persuasi yang paling tepat. Bagi Aristoteles, retorika tidak lain daripada “kemampuan untuk menentukan, dalam kejadian tertentu dan situasi tertentu, metode persuasi yang ada”. Dalam tahap ini juga, pembicara merumuskan tujuan dan mengumpulkan bahan (argumen) yang sesuai dengan kebutuhan khalayak.

Aristoteles menyebut tiga cara untuk mempengaruhi manusia. Pertama, Anda harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa Anda memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Kedua, Anda harus Menyentuh hati khalayak perasaan, emosi, harapan, kebencian dan kasih sayang mereka (pathos). Kelak, para ahli retorika modern menyebutnya imbauan emotional (emotional appeals). Ketiga, Anda Meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini Anda mendekati khalayak lewat otaknya (logos).

Di samping ethos, pathos, dan logos, Aristoteles menyebutkan dua cara lagi yang efektif untuk mempengaruhi pendengar: entimem dan contoh. Entimem (Bahasa Yunani: “en” di dalam dan “thymos” pikiran) adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan. Disebut tidak lengkap, karena Sebagian premis dihilangkan.

Sebagaimana kita ketahui, silogisme terdiri atas tiga premis: mayor, minor, dan kesimpulan. Semua manusia mempunyai perasaan iba kepada orang yang menderita (mayor). Anda manusia (minor). Tentu Anda pun mempunyai perasaan yang sama (kesimpulan). Ketika saya ingin mempengaruhi Anda untuk mengasihi orang-orang yang menderita, saya berkata, “Pilihlah Partai kami yang anti korusp dan mempunyai kader partai yang bersih. Sebagai rakyat Indonesia yang mendukung anti korupsi, Anda pasti lebih memilih partai kami.”. Ucapan yang ditulis miring menunjukkan silogisme, yang premis mayornya dihilangkan.

Di samping entimem, contoh adalah cara lainnya. Dengan mengemukakan beberapa contoh, secara induktif Anda membuat kesimpulan umum. 65 juta dari 150 juta rakyat Indonesia memberikan hal suaranya atau memilih Susilo Bambang Yudoyono sebagai Presiden RI ke-6 pada Pemilihan Umum tahun 2009. Jadi SBY merupakan candidat presiden yang popular di tengah rakyat Indonesia.

Beberapa Tahap Retorika

Retorika mempunyai beberapa tahap, yaitu: Dispositio (penyusunan). Pada tahap ini, pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan. Aristoteles menyebutnya taxis, yang berarti pembagian. Pesan harus dibagi ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Susunan berikut ini mengikuti kebiasaan berpikir manusia: pengantar, pernyataan, argumen, dan epilog. Menurut Aristoteles, pengantar berfungsi menarik perhatian, menumbuhkan kredibilitas (ethos), dan menjelaskan tujuan. Setiap politikus menyusun dan membuat pidato politik dalam setiap kesempatan atau acara yang diwajibkan mereka untuk berpidato, termausk dalam kampanye politik. Pidato politik biasa disusun berdasarkan tujuan penting komunikator. Hal tersebut sangat penting dalam upaya menciptakan pengaruh yang positif di tengah khalayak. Setiap Presiden RI mempunyai tim penyusun pidato.

Elocutio (gaya). Pada tahap ini, pembicara memilih kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat untuk “mengemas” pesannya. Aristoteles memberikan nasihat ini: gunakan bahasa yang tepat, benar, dan dapat diterima; pilih kata-kata yang jelas dan langsung; sampaikan kalimat yang indah, mulia, dan hidup; dan sesuaikan bahasa dengan pesan, khalayak, dan pembicara. Masing-masing Presiden RI mempunyai gaya bicara dan gaya bahasa dalam pidato dan penyampaian pidato. Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudoyono, masing-masing mempounyai gaya berpidato yang berbeda.

Memoria (memori). Pada tahap ini, pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikannya, dengan mengatur bahan-bahan pembicaraannya Aristoteles menyarankan “jembatan keledai” untuk memudahkan ingatan. Di antara semua peninggalan retorika klasik, memori adalah yang paling kurang mendapat perhatian para ahli retorika modern. Memori ini penting baik bagi komunikator ataupun bagi khalayak agar poenyapaian pidato lebih menarik dan sekaligus menyentuh afeksi khalayak.

Pronuntiatio (penyampaian). Pada tahap ini, pembicara menyampaikan pesannya secara lisan. Di sini, akting sangat berperan. Demosthenes menyebutnya hypocrisis (boleh jadi dari sini muncul kata hipokrit). Pembicara harus memperhatikan olah suara (voice) dan gerakangerakan anggota badan (gestus moderatio cum venustate). Gerakan tangan, suara, mimik muka dan lain-lain dari anggota tubuh merupakan bahasa nonverbal yang berperan meneguhkan, menegaskan, menimbulkan perhatian dari khalayak. Kata-kata verbal saja tidaklah memadai dalam pidato dan tidak menarik untuk disimak. Penggunaan bahasa nonverbal mmapu membuat penyampaian pidato dalam bahasa verbal menjadi lebih menarik dan hidup, sehingga maknanya tercapai. Bahas tubuh nonverbal B.J. Habibie membuat pidatonya menarik dan tidak bosan untuk didengarkan.

Retorika idealnya di definisikan sebagai seni dalam berbicara, dengan retorika kita dapat mempengaruhi siapapun melalui tutur kata berbicara fasih, jelas serta mencapai tujuan yang di inginkan. Retorika berawal dari sebuah koloni Yunani, pada masa itu retorika digunakan untuk membela orang-orang yang tersangkut persoalan hukum. Corax sebagai tokoh pertama yang memperkenalkan retorika menuliskan sebuah makalah tentang “Teknik kemungkinan”. Bila kita tidak dapat memastikan sesuatu maka mulailah dari berbagai kemungkinan, yaitu kemungkinan umum dan khusus. Sehingga dapat disimpulkan retorika adalah seni bersilat lidah.

Disamping itu, Corax membagi retorika menjadi 5 bagian yaitu ; pembukaan, uraian, argument, penjelasan tambahan, dan kesimpulan. Sementara Aristoteles menyebutkan 3 prinsip dalam mempengaruhi manusia, yakni ethos, pathos dan logos. Pertama, Anda harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa Anda memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Kedua, Anda harus Menyentuh hati khalayak perasaan, emosi, harapan, kebencian dan kasih sayang mereka (pathos). Kelak, para ahli retorika modern menyebutnya imbauan emotional (emotional appeals). Ketiga, Anda Meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini Anda mendekati khalayak lewat otaknya (logos). Di samping ethos, pathos, dan logos, Aristoteles menyebutkan dua cara lagi yang efektif untuk mempengaruhi pendengar: entimem dan contoh. Entimem (Bahasa Yunani: “en” di dalam dan “thymos” pikiran) adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan. Disebut tidak lengkap, karena sebagian premis dihilangkan.

Di Indonesia, retorika bukanlah hal baru dalam proses sosial, politik, dan budaya. Karena seperti yang telah dipaparkan oleh Aristoteles, retorika  adalah seni mempengaruhi orang-orang untuk melakukan sesuatu dibawah kendali sang orator. Banyak contoh, para orator yang semasa hidupnya berhasil membius banyak masyarakat secara universal. Contoh; Soekarno, pada zamannya, dia telah memberikan kontribusi yang cukup banyak terhadap negeri ini. Soekarno yang pada masanya dijuluki sebagai “singa podium”, telah berhasil membawa pengaruh kuat dalam proses kemerdekaan NKRI. bukan hanya soekarno, masih banyak tokoh-tokoh yang kiranya sangat berpengaruh dengan gaya retorika masing-masing.

Bila merujuk pada fenomena komunikasi, retorika merupakan cara untuk mempersuasi audiens agar melakukan apa yang telah di arahkan orator dibawah alam sadar. Ini merupakan efek komunikasi yang dikemukakan oleh Jalaludin Rakhmat (2009:231), bahwa efek komunikasi meliputi ; kognisi, afeksi, dan behavioral. Berbeda dengan retorika yang digunakan SBY, retorika yang digunakan SBY lebih cenderung menggunakan “apologie” atas apa yang terjadi di negeri ini. Ini kemudian secara serentak membuat rakyat Indonesia jenuh atas apa yang telah disampaikan oleh SBY pada saat pidato politik. Bayangkan, bagaimana mungkin seorang presiden hanya mampu berapologi dalam menangani kasus-kasus yang terjadi pada negeri ini?

Dalam teori kepemimpinan misalnya, karakteristik seorang pemimpin adalah;

  • Cerdas
  • Terampil secara konseptual
  • Kreatif
  • Diplomatis dan taktis
  • Lancar berbicara
  • Memiliki pengetahuan ttg tugas kelompok
  • Persuasive
  • Memiliki keterampilan sosial (Yulk dalam Hersey dan Blanchard (1998))

Robins (1996) mengatakan bahwa teori ini adalah teori yang mencari ciri-ciri kepribadian sosial, fisik atau intelektual yang membedakan pemimpin dan yang bukan pemimpin. Setidaknya SBY mampu membius dengan pola-pola retorika yang membakar semangat rakyat Indonesia agar tidak pernah patah semangat atas persoalan bangsa ini. Nmaun realitanya, SBY tidak mampu secara tegas melakukan satu langkah perubahan yang membela rakyat.

Retorika pada dasarnya sangat diperlukan dalam praktek politik agar mampu mempengaruhi khalayak secara efektif dan efisien. Politisi membutuhkan kemapuan berbicara yang baik karena hampir sebagaian besar aktivitas mereka adalah berbicara atau terlibat dengan pembicaraan politik. Adalah sangat tidak mungkin seorang komunikator politik tidak memiliki kemampuan berbicara yang baik. Seperti Guruh Soekarno Putra dalam kampanye Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dalam sbeuah kampanye televisi pada kampanye 1999 terlihat sangat tidak menarik karena ketidak sesuian antara isu, isi, gaya bicara dan gerakan anggota badan (Bahasa nonverbal) yang bersangkutan. Akhirnya pesan yang sampai ke masyarakat tidak jelas, tidak sesuai harapan bahkan tampilan menjadi tidak menarik untuk dilihat disebabkan beberapa alasan dia atas.

Namun retorika bukan hanya sekedar keahlian berbicara atau menyampaikan pendapat dalam arti seseorang mempunyai kemampuan menyampaikan pesan, melainkan lebih dari itu, menjadi prasyarat bahwa pesan yang disampaikan mengandung makna, rasionalitas dan argumentasi yang baik. Dituntun juga unsur ethos menurut Arisetoteles yaitu pertimabngan nilai dan kesesuaian antara komunikator, pesan dan khalayak yang menerima pesan politik. Hal tersebut diperlukan karena ada kemungkinan pesan yang disampaikan bukan yang sebenarnya atau mewakili realitas, melainkan hasil manipulasi bahasa dan keahlian komunikator dalam menyampaikannya. SBY merupakan presiden yang mampu menyampaikan pesan dengan gaya bahasa yang baik dan menarik sehingga mampu membuai khalayak, seakan pesan yang disampaikan adalah benar. Namun realitanya banyak pernyataan merupakan hasil konstruksi atas realitas yang ada. SBY mampu memanfaat media massa untuk tujuan kepentingan memelihara persepsi dan opini publik yang positif terhadap presiden dan partai Demokrat.

Materi diambil dari Sumber Referensi :

KAMARUDDIN. 2015. KOMUNIKASI POLITIK. Bahan Ajar Mata Kuliah Komunikasi Politik. Program Studi Ilmu Komunikasi. Bukit Indah – Universitas Malikussaleh.

About abdullatiefku

Check Also

MEDIATED POLITIK DAN TELE-POLITICS

Sebagain besar proses komunikasi politik merupakan mediated politics atau bahkan media-driven politics. Artinya, proses memproduksi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *