Home / KAJIAN / PSIKOLOGI KOMUNIKASI / PSIKOLOGI PESAN

PSIKOLOGI PESAN

Komunikasi antarmanusia, atau sering kali dalam beberapa literatur disebut Human Communication atau Interpersonal Communication, merupakan kegiatan penyampaian informasi, berita, pesan, atau amanah dari seseorang kepada orang lain dengan harapan agar hal-hal yang diberitahukan itu dapat diterima, dimengerti, diikuti dan diaplikasikan, bahkan menjadi milik bersama antara sumber dan penerima. Sumber pengirim atau manusia pengirim disebut komunikator, si penerima disebut komunikan (communicate).

Kegiatan komunikasi dilaksanakan dengan menggunakan lambang atau kode. Kode yang sebagian besar digunakan dalam komunikasi adalah kode yang diucapkan atau ditulis (kode yang berhubungan dengan penggunaan kata-kata). Tetapi sesungguhnya masih ada kode lain yang sangat penting peranannya dalam komunikasi, yaitu kode nonverbal, yaitu kode nonkata-kata.

Jadi apabila komunikasi kita diharapkan efektif, pesan-pesan verbal non verbal haruslah saling menguatkan satu sama lain dan membentuk suatu keseluruhan yang jujur dan terpadu.

Begitu penting dan besarnya pengaruh pesan nonverbal di dalam proses komunikasi, beberapa ahli dan penulis komunikasi menempatkan posisi komunikasi nonverbal pada kelas tersendiri. Seperti dikemukakan oleh Weavers (1978:21), Effendy (1981:28-29) dan Sudirjo (1983:3) dalam bukunya Rochayat Harun dan Elvinaro5, membagi kelas-kelas komunikasi antarmanusia (human communication) ke dalam dua bentuk komunikasi, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal.

Pesan Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan lambang bahasa yaitu bahasa lisan atau bahasa tulisan. Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas.6

Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai aspek realitas individual kita. konsekuensinya, kata-kata adalah abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang diwakili kata-kata itu.

Fungsi bahasa yang mendasar adalah untuk menamai atau menjuluki orang, objek, dan peristiwa. Setiap orang punya nama untuk indentifikasi sosial. orang juga dapat menamai apa saja, objek-objek yang berlainan, termasuk perasaan tertentu yang mereka alami.8 Penamaan adalah dimensi pertama bahasa dan basis bahasa, pada awalnya itu dilakukan manusia sesuka mereka, yang lalu menjadi konvensi. Sepanjang hidup kita sebenarnya belajar mengabstraksikan segala sesuatu.

Menurut Larry L. Barker, bahasa memiliki tiga fungsi: penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi. Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi. Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain. anda juga menerima informasi setiap hari, sejak bangun tidur hingga anda tidur kembali, dari orang lain, baik secara langsung atau tidak (melalui media massa misalnya). Fungsi bahasa inilah yang disebut fungsi transmisi. Keistimewaan bahasa sebagai sarana transmisi informasi yang lintas-waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.9 Tanpa bahasa kita tidak mungkin bertukar informasi; kita tidak mungkin menghadirkan semua objek dan tempat untuk kita rujuk dalam komunikasi kita.

Komunikasi dalam bahasa yang sama saja dapat menimbulkan salah pengertian, apalagi bila kita tidak menguasai bahasa lawan bicara kita. Untuk melakukan komunikasi yang efektif, kita harus menguasai bahasa mitra komunikasi kita. dalam konteks inilah kita setidaknya perlu menguasai bahasa Inggris (sebagai bahasa internasional) untuk menjadi seorang komunikator yang efektif.

Seperti dikatakan Tubbs dan Moss, penguasaan bahasa asing yang minim, pada tingkat pribadi, dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan yang segera. Seorang mahasiswi yang belajar di sebuah lembaga pendidikan tinggi perhotelan pernah mengatakan “No, I Haven’t” dengan tersipu-sipu dan wajahnya merah padam ketika ditanya gurunya, “Have you ever been a hostess in a restaurant?” di sebuah tempat kursus bahasa Inggris. Padahal kata hostess yang dimaksud di sana salah “penyambut tamu”, arti sebenarnya dari kata itu, bukan “wanita penghibur” atau “pelacur” yang sering dipersepsikan orang Indonesia.

Pesan Komunikasi Non Verbal

Komunikasi non verbal adalah komunikasi dengan menggunakan ekspresi fasial, gerak anggota tubuh, pakaian, warna, musik, waktu dan ruang, serta rasa, sentuhan dan bau. Sedangkan komunikasi paralinguistic adalah komunikasi verbal dan nonverbal, meliputi: kualitas suara, seperti kecepatan berbicara, tekanan suara, dan vokalisasi, yang bukan kata, yang digunakan untuk menunjukkan makna atau emosi tertentu, demikian menurut Delozier sebagaiamana yang dikutip Jahi.

Tepuk tangan, pelukan, usapan, duduk, dan berdiri tegak adalah pesan nonverbal yang menerjemahkan gagasan, keinginan atau maksud yang terkandung dalam hati kita. Sebagai contoh, dalam mengungkapkan penghormatan kepada orang lain. Orang Arab menghormati orang asing dengan memeluknya. Orang polinesia menyalami orang lain dengan saling memeluk dan mengusap punggung. Seorang Ainu, di Jepang bila berjumpa dengan saudaranya, memegang tanganya, kemudian dengan cepat melepaskan genggamannya dan memegang kedua telinga saudaranya. Setelah itu, masing-masing saling mengusap wajah dan bahu. Orang Jawa menyalami orang yang dihormatinya dengan sungkem. Orang Jawa duduk bersila menyambut kedatangan orang yang mulia sedangkan orang Belanda malah berdiri tegak.

Malcolm menyatakan, bahwa komunikasi nonverbal berupa sikap badan, ekspresi wajah, dan gerak isyarat. Myers (1976: 149-150) menjelaskan, bahwa komunikasi/pesan nonverbal adalah pengiriman informasi kepada orang lain melalui nada suara, pandangan (tatapan), isyarat, sentuhan, dan lain-lain.

Selanjutnya, Weaver menyatakan bahwa komunikasi nonverbal dilakukan apabila kita berkomunikasi dengan orang lain melalui hal-hal seperti: ekspresi wajah, postur, isyarat, perubahan nada suara, dan rangkaian serta irama kata-kata. Effendi15 mengatakan bahwa komunikasi nonverbal dilakukan dengan isyarat atau dengan gerak gerik atau tingkah laku tanpa mengatakan sepatah katapun, tetapi yang penting ialah harus ada tujuan.

Sears dan Fredmen sebagaimana dikutip oleh Rochayat dan Elvinaro mengatakan, komunikasi nonverbal merupakan kesimpulan dan cara kita menyampaikan informasi tanpa mempergunakan bahasa. komunikasi ini sampai kepada kita melalui saluran yang kelihatan, yang mencakup perilaku seperti: ekspresi wajah, isyarat, postur, dan penampilan.

Perbedaan antara komunikasi verbal dengan komunikasi nonverbal dikemukakan oleh Venderber17 yang menyatakan bahwa perbedaan utama antara komunikasi verbal dan nonverbal adalah: komunikasi nonverbal berlangsung terus-menerus sepanjang kehadiran manusia, sedangkan komunikasi verbal dimulai bila suara keluar dari mulut dan berakhir bila bunyi suara berhenti atau dimulai ketika tulisan dibuat dan berakhir bila tulisan telah dibaca.

Dari berbagai pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa komunikasi nonverbal adalah proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain tanpa mempergunakan bahasa (lisan maupun tulisan), tetapi dilakukan melalui sikap badan, ekspresi wajah, gerak isyarat, pandangan (tatapan), sentuhan, penampilan dan sebagainya.

Fungsi komunikasi nonverbal ialah mengganti kemampuan berbicara, sebagai isyarat sikap terhadap orang lain, sebagai isyarat emosi, dan sebagai alat bantu dalam komunikasi verbal. Peran komunikasi nonverbal dalam proses komunikasi adalah pertama, komunikasi nonverbal sebagai pengganti Wicara. Komunikasi nonverbal dapat menggantikan kemampuan berbicara (komunikasi verbal) apabila komunikasi verbal tidak mungkin dilakukan. Misalnya, karena jauhnya jarak atau karena kebisingan suasana, maka sebuah jari yang diletakkan secara vertikal di atas bibir tidak memerlukan perintah verbal “tenang”!

Kedua, komunikasi nonverbal sebagai isyarat sikap terhadap orang lain. sebuah contoh mengenai cara bagaimana berbagai isyarat bergabung untuk membentuk suatu komunikasi, ialah pengisyaratan sikap bersahabat dan keakraban. Malclom mengatakan bahwa derajat keakraban diisyaratkan dengan setidak-tidaknya empat faktor, yaitu: posisi dekat, pandangan mata, senyuman, dan topik pembicaraan pribadi.

Ketiga, komunikasi nonverbal sebagai isyarat. Beberapa ekspresi wajah dapat menunjukkan emosional misalnya marah, sedih, gembira, kesal, dan sebagainya. Separuh bagian atas wajah, di sekitar mata dan alis mata, dapat mengisyaratkan emosi. Misalnya, alis mata menaik pada sat kita terkejut dan berkerenyut pada saat kita merasa cemas.

Keempat. Komunikasi nonverbal sebagai alat bantu dalam komunikasi verbal. Pada saat berbicara melalui telepon kita mengeluarkan suara-suara seperti ‘ya’, Hm…m’, dan lain-lain, untuk menunjukkan bahwa kita masih tetap mendengarkan. Dan di dalam komunikasi tatap muka pun kita dapat melakukannya dengan menggunakan berbagai isyarat, seperti anggukan kepada dan tatapan muka. Anggukan kepala dan senyuman sebagai bagian dari perbuatan pendengar, dapat dikatakan sebagai pengukuh, karena sebagaimana kita lihat bahwa perbuatan tersebut kadang-kadang bisa memperlama pembicaraan.

Pesan Non Verbal Sebagai Kajian Yang Menarik.

Komunikasi nonverbal yang digunakan dalam berkomunikasi sudah lama menarik perhatian para ahli terutama dari kalangan antropolog, bahasa, bahkan di bidang kedokteran. Perhatian para ahli untuk mempelajari bahasa nonverbal diperkirakan mulai tahun 1873, terutama dengan munculnya tulisan Charles Darwin tentang bahasa ekspresi wajah manusia.

Hasil penelitian Albert Mahrabian tentang nonverbal menyimpulkan bahwa tingkat kepercayaan dari pembicaraan orang hanya 7% berasal dari bahasa verbal, 38% dari vokal suara dan 55% dari ekspresi muka. Ia juga menambahkan bahwa jika terjadi pertentangan antara apa yang diucapkan seorang dengan perbuatannya, maka orang lain cenderung mempercayai hal-hal yang bersifat nonverbal.

Mark Knapp mengatakan bahwa penggunaan nonverbal dalam berkomunikasi memiliki fungsi: (1) meyakinkan apa yang diucapkan (repetition) (2) menunjukkan perasaan dan emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata (substitution), (3) menunjukkan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalinya (identity), (4) menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan belum sempurna.

Pemberian arti terhadap nonverbal sangat dipengaruhi oleh sistem sosial budaya masyarakat yang menggunakannya. Misalnya meludah di depan orang dipandang oleh beberapa kelompok masyarakat Asia sebagai perbuatan yang kurang terpuji. Tetapi pada beberapa suku Indian di Amerika diartikan sebagai penghormatan, di Afrika sebagai penghinaan dan pada beberapa suku. Di Eropa timur dianggap sebagai lambang kesialan. Demikian juga halnya dengan kebiasaan mengeluarkan lidah, bagi orang Eropa dan Amerika diartikan sebagai lelucon atau ejekan, tetapi di beberapa suku tradisional di Papua Nugini dilambangkan sebagai ucapan selamat datang.

Berbagai penelitian nonverbal dapat dikelompokkan dalam beberapa bentuk: Pertama, gerakan tubuh (kinesics) ialah nonverbal yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan badan, yang terdiri dari:

(a) emblems ialah isyarat yang punya arti langsung pada simbol oleh gerakan badan. Misalnya mengangkat jari V yang artinya victory atau menang, mengangkat jempol berarti yang terbaik untuk orang Indonesia, tetapi jelek bagi orang India;  (b) illustrators ialah isyarat yang dibuat dengan gerakan-gerakan badan untuk menjelaskan sesuatu, misalnya besarnya barang atau tinggi rendahnya suatu objek yang dibicarakan;  (c) affect displays ialah isyarat yang terjadi karena adanya dorongan emosional sehingga berpengaruh pada ekspresi muka, misalnya tertawa, menangis, tersenyum, sinis, dan sebagainya. Hampir semua bangsa di dunia ini melihat perilaku tertawa dan senyum sebagai lambang kebahagiaan, sedangkan menangis dilambangkan sebagai tanda kesedihan; (d) regulators ialah gerakan-gerakan tubuh terjadi pada kepala, misalnya mengangguk tanda setuju atau menggeleng tanda menolak; (e) adaptor ialah gerakan badan yang dilakukan sebagai kejengkelan. Misalnya menggerutu, mengepalkan tinju ke atas meja, dan sebagainya.

Kedua, gerakan mata (eye gaze), empat fungsi utama gerakan mata: (a) untuk memperoleh umpan balik dari seorang lawan bicaranya. Misalnya dengan mengucapkan bagaimana pendapat anda tentang hal itu?; (b) untuk menyatakan terbukanya saluran komunikasi dengan tibanya waktu untuk bicara; (c) sebagai sinyal untuk menyalurkan hubungan di mana kontak mata akan meningkatkan frekuensi bagi orang yang saling memerlukan. Sebaliknya orang-orang uang merasa malu akan berusaha untuk menghindari terjadinya kontak mata. Misalnya orang yang merasa bersalah atau berutang akan menghindari dari orang yang bisa menagihnya; (d) sebagai pengganti jarak fisik. Bagi orang yang berkunjung ke suatu pesta, tetapi tidak sempat berdekatan karena banyaknya pengunjung, maka melalui kontak mata mereka dapat mengatasi jarak pemisah yang ada.

Ketiga, sentuhan (touching) ialah isyarat yang dilambangkan dengan sentuhan badan; (a) kinesthetic ialah isyarat yang ditunjukkan dengan bergandengan tangan satu sama lain, sebagai simbol keakraban atau kemesraan; (b) sociofugal ialah isyarat yang ditunjukkan dengan jabat tangan atau saling rangkul; (c) thermal ialah isyarat yang ditunjukkan dengan sentuhan badan yang terlalu emosional sebagai tanda persahabatan yang begitu intim. Misalnya menepuk punggung karena sudah lama tidak bertemu.

Keempat, intonasi suara (paralinguage) ialah isyarat yang ditimbulkan dari tekanan atau irama suara sehingga penerima dapat memahami sesuatu dibalik apa yang diucapkan. Misalnya “datanglah” bisa diartikan betul-betul mengundang kehadiran kita atau sekedar basa-basi.

Kelima, diam, Berbeda dengan tekanan suara, maka sikap diam juga sebagai nonverbal yang mempunyai arti. Max Picard menyatakan bahwa diam tidak semata-mata mengandung arti bersikap negatif, tetapi juga melambangkan sikap positif.

Keenam, postur tubuh. Orang ditakdirkan dengan berbagai bentuk tubuh. Well dan Siegel, ahli psikologi melalui penelitiannya membagi bentuk tubuh atas tiga tipe: Ectomorphy bagi mereka yang memiliki bentuk kurus tinggi, mesomorphy bagi mereka yang memiliki tubuh tegap, tinggi, atletis, dan endomorphy bagi mereka yang memiliki bentuk tubuh pendek, bulat, dan gemuk

Ketujuh, kedekatan dan ruang (proximity and spatial). Proximity adalah nonverbal yang menunjukkan kedekatan dari dua objek yang mengandung arti, yang dapat dibedakan atas territory atau zone. Edward T. Hall membagi kedekatan menuntut territory atas empat macam: (a) wilayah intim (rahasia), yakni kedekatan yang berjarak antara 3-18 inchi; (b) wilayah pribadi ialah kedekatan yang berjarak antara 18 inchi -4 kaki; (c) wilayah sosial ialah kedekatan yang berjarak antara 4 sampai 12 kaki; (d) wilayah umum (publik) ialah kedekatan yang berjarak antara 4-12 kaki atau suara kita terdengar dalam jarak 25 kaki. Selain kedekatan dari territory, ada juga beberapa ahli melihat dari sudut ruang dan posisi, misalnya posisi meja dan tempat duduk. Para pemimpin yang duduk di depan meja segi empat persegi panjang, cenderung pilih sebagai pemimpin kelompok. Orang yang banyak bicara dalam rapat umumnya duduk pada posisi kursi yang lebih tinggi. Posisi meja para eksekutif pada suatu kantor senantiasa cenderung pada posisi sudut ruang dibanding dengan karyawan lainnya.

Kedelapan, artifak dan visualisasi adalah hasil kerajinan manusia (seni), baik melekat pada diri manusia maupun yang ditujukan untuk kepentingan umum. Artifact ini selain dimaksudkan untuk kepentingan estetika, juga menunjukkan status atau identitas diri seseorang atau suatu bangsa. Misalnya baju, topi, pakaian dinas, cincin, gelang, alat transportasi, alat rumah tangga, arsitektur, monumen, patung, dan sebagainya.

Kesembilan, warna juga memberi arti terhadap suatu objek. Di Indonesia warna hijau sering kali diidentikkan dengan warna partai persatuan pembangunan, kuning golongan karya, dan merah sebagai warna partai demokrasi Indonesia. hampir semua bangsa di dunia memiliki arti tersendiri pada warna. Hal ini bisa dilihat pada bendera nasional masing-masing, serta upacara-upacara ritual lainnya yang sering dilambangkan dengan warna-warni.

Kesepuluh, waktu. Ungkapan time is money membuktikan bahwa waktu itu sangat penting bagi orang yang ingin maju, karena itu orang yang sering menepati waktu dinilai sebagai orang yang berpikiran modern. Waktu mempunyai arti tersendiri dalam kehidupan manusia.

Kesebelas, bunyi. Kalau paralanguage dimaksudkan sebagai tekanan suara yang keluar dari mulut untuk menjelaskan ucapan verbal, maka banyak bunyi-bunyian yang dilakukan sebagai tanda isyarat yang tidak dapat digolongkan sebagai paralanguage. Misalnya bersiul, bertepuk tangan, bunyi terompet, letusan senjata, beduk, tambur, sirine, dan sebagainya. Bunyi-bunyian seperti ini dimaksudkan untuk mengatasi jarak yang jauh dan menyatakan perintah untuk kelompok orang banyak, misalnya dalam kesatuan tentara, pandu, dan sebagainya.

Kedua belas, bau juga menjadi nonverbal. Selain digunakan untuk melambangkan status seperti kosmetik, bau juga dapat dijadikan sebagai petunjuk arah. Misalnya posisi bangai, bau karet terbakar, dan semacamnya.

Kita mempersepsi manusia tidak hanya lewat bahasa verbalnya: bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu berbahasa asing dan sebagainya), namun juga melalui perilaku nonverbalnya. Pentingnya pesan nonverbal ini misalnya dilukiskan frase. “bukan apa yang ia katakan, melainkan bagaimana ia mengatakannya.” Lewat perilaku nonverbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia sedang bahagia, bingung, atau sedih. Kesan awal kita pada seseorang sering didasarkan perilaku nonverbalnya, yang mendorong kita untuk mengenalnya lebih jauh.

Secara sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi nonverbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima; jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan; kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpa menyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna bagi orang lain.

Sebagaimana kata-kata, kebanyakan isyarat nonverbal juga tidak universal, melainkan terikat oleh budaya, jadi dipelajari, bukan bawaan. Sedikit saja isyarat nonverbal yang merupakan bawaan. Kita semua lahir dan mengetahui bagaimana tersenyum, namun kebanyakan ahli sepakat bahwa di mana, kapan, dan kepada siapa kita menunjukkan emosi ini dipelajari, dan karenanya dipengaruhi oleh konteks dan budaya. Kita belajar menatap, memberi isyarat, memakai parfum, menyentuh berbagai bagian tubuh orang lain, dan bahkan kapan kita diam.25 Cara kita bergerak dalam ruang ketika berkomunikasi dengan orang lain didasarkan terutama pada respons fisik dan emosional terhadap rangsangan lingkungan. Sementara kebanyakan perilaku verbal kita bersifat spontan, ambigu, sering berlangsung cepat, dan di luar kesadaran dan kendali kita. Karena itulah Edward T. Hall menamai bahasa nonverbal ini sebagai “bahasa diam” (silent language)26 dan “dimensi tersembunyi” (hidden dimension) suatu budaya.27 Disebut diam dan bersembunyi, karena pesan-pesan nonverbal tertanam dalam konteks komunikasi. Selain isyarat situasional dan relasional dalam transaksi komunikasi, pesan nonverbal memberi kita isyarat-isyarat kontekstual. Bersama isyarat verbal dan isyarat kontekstual, pesan nonverbal membantu kita menafsirkan seluruh makna pengalaman komunikasi.

Fungsi Komunikasi Nonverbal

Meskipun secara teoritis, komunikasi nonverbal dapat dipisahkan dari komunikasi verbal, dalam kenyataannya kedua jenis komunikasi itu jalin menjalin dalam komunikasi tatap-muka sehari-hari. Dalam komunikasi ujaran, rangsangan verbal dan rangsangan nonverbal itu hampir selalu berlangsung bersama-sama dalam kombinasi. Kedua jenis rangsangan itu diinterpretasikan bersama-sama oleh penerima pesan.

Dalam buku lainnya Goffman mengatakan:

Meskipun seorang individu dapat berhenti berbicara, ia tidak dapat berhenti berkomunikasi melalui idiom tubuh; ia harus mengatakan suatu hal yang benar atau salah. Ia tidak dapat tidak mengatakan sesuatu. Secara paradox, cara ia member informasi tersebut tentang dirinya sendiri – meskipun hal ini masih bisa dihargai – adalah menyesuaikan diri dan bertindak sebagaimana orang sejenis ini diharapkan bertindak.

Dilihat dari fungsinya, perilaku nonverbal mempunyai beberapa fungsi. Paul Ekman menyebutkan lima fungsi pesan nonverbal, seperti yang dapat dilukiskan dengan perilaku mata, yakni sebagai:

                Emblem. Gerakan mata tertentu merupakan simbol yang memiliki kesetaraan dengan simbol verbal. Kedipan mata dapat mengatakan “Saya tidak sungguh-sungguh”.

                Illustrator. Pandangan ke bawah dapat menunjukkan depresi atau kesedihan.

Regulator. Kontak mata berarti saluran percakapan terbuka. Memalingkan muka menandakan ketidaksediaan berkomunikasi.

Penyesuaian. Kedipan mata yang cepat meningkat ketika orang berada dalam tekanan. Itu merupakan respons yang tidak disadari yang merupakan upaya tubuh untuk mengurangi kecemasan.

Affect display. Pembesaran manik-mata (pupil dilation) menunjukkan peningkatan emosi. Isyarat wajah lainnya menunjukkan perasaan takut, terkejut, atau senang.

Dalam hubungannya dengan perilaku verbal, perilaku nonverbal mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut:

Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal, misalnya anda menganggukkan kepala ketika anda mengatakan “Ya”, atau menggelengkan kepala ketika mengatakan “Tidak”.

Memperteguh, tekanan atau melengkapi perilaku verbal. Misalnya anda melambaikan tangan seraya mengucapkan “Selamat jalan”, “Sampai jumpa lagi, ya”, atau “Bye bye”; atau anda menggunakan gerakan tangan, nada suara yang meninggi, atau suara yang lambat ketika anda berpidato dihadapan khalayak.

Perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal, jadi berdiri sendiri, misalnya anda menggoyangkan tangan anda dengan telapak tangan mengarah ke depan (sebagai pengganti kata “Tidak”) ketika seorang pengamen mendatangi mobil anda atau anda menunjukkan letak ruang dekan dengan jari tangan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kepada seorang mahasiswa baru yang bertanya, “Di mana ruang dekan, Pak?”.

Perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal. Misalnya anda sebagai mahasiswa mengenakan jaket atau membereskan buku-buku, atau melihat jam tangan anda menjelang atau ketika kuliah berakhir, sehingga dosen dapat segera menutup kuliahnya.

Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilaku verbal. Misalnya, seorang suami mengatakan, “Bagus! Bagus!” ketika dimintai komentar oleh istrinya mengenai gaun yang baru dibelinya, seraya terus membaca surat kabar atau menonton televisi; atau seorang dosen melihat jam tangan dua tiga kali, padahal tadi ia mengatakan bahwa ia mempunyai waktu untuk berbicara dengan anda sebagai mahasiswanya.

Tanpa memperhatikan sungguh-sungguh bagaimana budaya mempengaruhi komunikasi, termasuk komunikasi nonverbal dan pemaknaan terhadap pesan nonverbal tersebut, kita bisa gagal berkomunikasi dengan orang lain. Kita cenderung menganggap budaya kita, dan bahasa nonverbal kita, sebagai standar dalam menilai bahasa nonverbal orang dari budaya lain. Bila perilaku nonverbal orang lain berbeda dengan kita, sebenarnya itu tidak berarti orang itu salah, bodoh atau sinting; alih-alih, secara kultural orang itu sedikit berbeda dengan kita. Bila kita langsung meloncat pada kesimpulan tentang orang lain berdasarkan perilaku nonverbalnya yang berbeda itu, maka kita terjebak dalam etnosentrisme (menganggap budaya sendiri sebagai standar dalam mengukur budaya orang lain).

Sumber Referensi  / Rujukan Utama :

PSIKOLOGI KOMUNIKASI – Dr. Nikmah Hadiati Salisah, SIP, M.Si – Buku Perkuliahan Program S-1 Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Sunan Ampel Surabaya

Sumber Rujukan dari Rujukan Utama :

Rochajat Harun dan Elvinaro Ardianto, Komunikasi Pembangunan dan Perubahan Sosial; Perspektif Dominan, Kaji Ulang dan Teori Kritis, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2011), 56.

Larry A. Samovar dan Richard E. Porter. Communication Between Cultures. (Belmont, California: Wadsworth, 1991), 153-154

Aubrey Fisher dan Katherine l. adams. Interpersonal Communication: Pragmatics of Human Relationships. (New York: McGraw-Hill, 1994),131

Larry l. Barker. Communication. Edisi ke-3.( Englewood Cliffs, : Prentice-Hall, 1984), 22-23 Ibid, hal. 84.

 Amri Jahi, Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan Di Negara Dunia Ke Tiga; Suatu Pengantar, (Jakarta : Gramedia, 1983), 3.

Jalaludin Rahmad, Psikologi Komunikasi, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1985), 301-302.

Malcolm Hardy dan Steve Heyes, Pengantar Psikologi, Alih bahasa; Soenardji, (Jakarta : Erlangga, 1988),56

Richard L. Weaver, Understanding Interpersonal Communication, (Glenview Illinois; Scot Foresman, 1978), 145

Onong Uchjana Efendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung : Remaja Rosyda Karya,1984), 49.

Rochajat Harun dan Elvinaro Ardianto, Komunikasi Pembangunan dan Perubahan Sosial; Perspektif Dominan, Kaji Ulang dan Teori Kritis, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2011), 57.

Rudolph F. Venderber, Communicate, Belmont, (California; Wadsworth, 1978), 58.

John R. Wenburg dan William W. Wilmot, The Personal Communication Process. (New York: John Wiley &Sons, 1973), 83;

Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss. Human Communication. Edisi ke-7. (New York: McGraw-Hill, 1994), 93.

Larry A. Samovar dan Richard E. Porter. Communication Between Cultures. (Belmont, California: Wedsworth, 199), 179.

Edward T. Hall. The Silent Language. (Garden City, NY: Anchor Books, 1959), 73.

Edward T. Hall. The Hidden Dimension. (New York: Doubleday, 1966), 87.

William B.  Gudykunst  dan  Young  Yun  Kim.  Communicating  with  Strangers:  An  Approach  to  Intercultural Communication. (New York: McGraw Hill, 1992), 172.

Thomas M. Scheidel. Speech Communication and Human Interaction. Edisi ke-2. Glenview, III: (Scott, Foresman & Co., 1976), 121.

Erving Goffman. Behavior in Public Places: Notes on the Social Organization of Gatherings. (New York: Free Press, 1963), 35

About abdullatiefku

Check Also

SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL (3)

Perkembangan Hubungan Interpersonal Apapun bentuk hubungan yang terjadi, dinamika sebuah hubungan interpersonal akan tumbuh, berkembang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *