Home / KAJIAN / PSIKOLOGI KOMUNIKASI / DIMENSI-DIMENSI PSIKOLOGI KOMUNIKASI (2)

DIMENSI-DIMENSI PSIKOLOGI KOMUNIKASI (2)

DIMENSI-DIMENSI PSIKOLOGI KOMUNIKASI (2)

Komunikasi sebagai Sistem

Sistem sering didefinisikan sebagai suatu aktivitas dimana semua komponen atau unsur yang mendukungnya saling berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan luaran. Dengan kata lain diantara unsur-unsur tersebut ada saling ketergantungan. Satu unsur tidak berjalan, maka akan mempengaruhi unsur yang lainnya. Suatu sistem senantiasa memerlukan sifat-sifat, yakni menyeluruh, saling bergantung, berurutan, mengontrol dirinya, seimbang, berubah, adaptif dan memiliki tujuan.3 Menyeluruh artinya semua komponen yang membangun sistem itu merupakan satu kesatuan yang integratif yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Karenanya dalam proses kerjanya semua komponen saling berinteraksi. Saling bergantung berarti mengikuti aturan permainan yang ada. Sistem harus melakukan kontrol atau pengawasan terhadap berfungsi tidaknya semua komponen itu dalam menciptakan suatu keseimbangan yang dinamis.

Dari segi bentuknya, sistem dapat dibedakan menjadi dua macam yakni sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka artinya sistem di mana prosesnya terbuka dari pengaruh lingkungan yang ada di sekitarnya. Sedangkan sistem tertutup adalah sistem di mana prosesnya tertutup dari lingkungan sekitarnya. Dalam penerapannya, sistem terbuka banyak ditemukan pada peristiwa-peristiwa sosial di mana suatu kegiatan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar, misalnya agama, politik, ekonomi, nilai budaya, dan sebagainya. Sementara pada sistem tertutup, banyak ditemui dalam kegiatan uji coba laboratorium yang berusaha mengisolasi pengaruh luar, misalnya musim, cuaca, udara, dan sebagainya.

Dalam konteks proses komunikasi sebagai sistem, komunikasi tidak akan bisa berjalan jika salah satu komponennya tidak berjalan atau terabaikan. Pesan tidak akan tercipta tanpa ada sumber, efek tidak akan ada tanpa pesan, umpan balik ada karena ada penerima, serta tidak ada penerima tanpa adanya sumber. Proses seperti ini menciptakan suatu struktur yang sistematis di mana semua unsur atau komponen dalam sistem tersebut daling berurutan. Sumber harus mendahului pesan dan pesan harus mendahuli saluran dan seterusnya. Perubahan struktur akan memberi pengaruh jalannya sistem yang berjalan.

Semakin Mirip Latar Belakang Sosial Budaya Semakin Efektif Komunikasi

Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan para pesertanya. Misalnya, penjual yang datang ke rumah untuk mempromosikan barang dianggap telah melakukan komunikasi efektif bila akhirnya tuan rumah membeli barang yang ia tawarkan, sesuai dengan yang diharapkan penjual itu, dan tuan rumah pun merasa puas dengan barang yang dibelinya.

Tidak ada dua manusia yang sama persis meski ia dilahirkan kembar dan diasuh dalam keluarga yang sama. Namun kesamaan dalam hal-hal tertentu misalnya agama, ras, bahasa, tingkat pendidikan, atau tingkat ekonomi akan mendorong orang-orang untuk saling tertarik dan pada gilirannya karena kesamaan itu komunikasi yang mereka lakukan menjadi lebih baik. Kesamaan bahasa khususnya akan membuat orang-orang yang berkomunikasi lebih mudah mencapai pengertian bersama dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memiliki kesamaan bahasa. Seorang lulusan perguruan tinggi bisa saja menikah dengan orang yang lulusan SD, dan seorang kulit putih menikah dengan orang kulit hitam dari negara lain, namun dalam komunikasi yang dilakukan sehari-hari mereka akan menyesuaikan diri agar komunikasinya berlangsung efektif. Tanpa adanya penyesuaian itu, mustahil komunikasi akan bisa berlangsung efektif.

Makna suatu pesan baik verbal maupun nonverbal pada dasarnya juga terikat pada budaya. Makna penuh suatu humor akan diterima penuh dalam bahasa daerah hanya akan dapat ditangkap oleh penutur asli bahasa bersangkutan. Penutur asli akan tertawa terbahak-bahak mendengar humor tersebut, sementara orang lain mungkin hanya bengong ketika humor itu dilontarkan karena mereka tidak memahami makna bahasa tersebut. Hal ini karena mereka yang tidak mengerti arti bahasa itu tidak bisa memaknai humor tersebut sebagai sesuatu yang lucu.

Komunikasi Bersifat Nonsekuensial

Pada prinsipnya komunikasi bersifat dua arah, meski terdapat banyak model komunikasi linear atau satu arah. Ketika seseorang berbicara dalam rapat atau kuliah, sebenarnya komunikasi yang berjalan adalah dua arah. Mereka yang menjadi peserta rapat atau pendengar dari kuliah itu selain sebagai penerima pesan pada dasarnya juga menjadi komunikator. Gerak tubuh dan ekspresi wajah mereka ketika mendengarkan rapat atau kuliah itu bisa dimaknai sebagai pesan oleh pemimpin rapat atau dosen yang sedang memberikan kuliah.

Sejumlah pakar komunikasi mengakui sifat sirkuler atau dua arah komunikasi ini. Frank Dance, Kincaid danSchramm menyebutnya dengan istilah model komunikasi antar manusia yang memusat, dan Tubss yang menggunakan istilah komunikator 1 dan komunikator 2 untuk kedua pihak yang berkomunikasi tersebut. Komunikasi sirkuler ditandai dengan beberapa hal berikut:

Orang-orang yang berkomunikasi dianggap setara. Komunikator A dan komunikator B berperan sebagai pengirim sekaligus penerima pesan dalam komunikasi tersebut.

Proses komunikasi berjalan timbal balik (dua arah), karena itu modelnya pun tidak lagi ditandai dengan suatu garis lurus bersifat linier (satu arah).

Dalam prakteknya, kita tidak lagi membedakan pesan dengan umpan balik, karena pesan komunikator A sekaligus umpan balik bagi komunikator B, dan sebaliknya umpan balik B sekaligus merupakan pesan B, begitu seterusnya.

Komunikasi yang terjadi sebenarnya jauh lebih rumit. Misalnya, komunikasi antara dua orang juga sebenarnya secara simultan melibatkan komunikasi dengan diri sendiri (berpikir) sebagai mekanisme untuk menanggapi pihak lainnya.

Meski sifat sirkuler digunakan untuk menandai proses komunikasi, unsur-unsur proses komunikasi sebenarnya tidak terpola secara kaku. Pada prinsipnya, unsur-unsur tersebut tidak berada dalam suatu tatanan yang bersifat linear, sirkuler, helikal atau tatanan lainnya. Unsur-unsur proses komunikasi boleh jadi beroperasi dalam suatu tatanan tadi, tetapi mungkin pula, setidaknya sebagain, dalam suatu tatanan yang acak. Karenanya, sifat nonsekuensial alih-alih sirkuler tampaknya lebih tepat digunakan untuk menandai proses komunikasi.

Komunikasi bersifat Irreversible

Perilaku atau tindakan kita dalam aktivitas sehari-hari adalah termasuk peristiwa. Sebagai peristiwa, perilaku atau tindakan itu berlangsung dalam suatu waktu dan tidak bisa ditarik kembali. Bila kita mencubit tubuh teman kita, maka peristiwa dan konsekuensinya tidak bisa kita tarik kembali. Yang bisa dilakukan setelah peristiwa itu terjadi hanya kita bisa meminta maaf atas tindakan atau peristiwa tersebut.

Senada dengan contoh di atas, dalam komunikasi, sekali anda mengirimkan pesan, anda tidak dapat mengendalikan pengaruh pesan tersebut bagi khalayak, apalagi menghilangkan efek pesan tersebut sama sekali. Hal ini terutama terasakan sekali bila kita mengirimkan pesan yang menyinggung perasaan orang lain. Meski orang tersebut telah memaafkan anda, perasaannya mungkin tidak lagi sama dibandingkan ketika sebelum anda menyinggung perasaannya.

Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai proses yang selalu berubah. Prinsip ini mestinya menyadarkan kita bahwa kita harus hati-hati untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, sebab efeknya yang tidak bisa ditiadakan sama sekali, meski kita berupaya meralatnya. Apalagi bila penyampaian pesan itu dilakukan untuk pertama kalinya.

Gunung Es Komunikasi

Aspek Komunikasi Yang Dapat Diamati (Terlihat) Observable

  • interactants yaitu orang yang terlibat dalam proses komunikasi, baik sebagai pengirim dan penerima
  • simbol yaitu sesuatu yang mewakili sesuatu bisa berwujud huruf, angka, kata, objek, orang atau tindakan
  • media yaitu sarana yang dipakai dalam proses komunikasi

Aspek Komunikasi Yang Tidak Dapat Diamati (largely Unobservable)

  • meaning yaitu penciptaan arti dari simbol-simbol komunikasi yang kita buat
  • learning yaitu kecenderungan manusia dalam merespon pesan tertentu
  • subjectivity yaitu setiap manusia dikatakan unik dan memberi makna yang berbeda-beda terhadap suatu pesan, anehnya komunikasi antar manusia tetap bisa berjalan. Ini sangat terkait dengan pengartian makna berdasar pengalaman masing-masing negoitiation yaitu manusia selalu mampu melakukan negosiasi dengan kemampuan adaptif yang menakjubkan
  • culture yaitu setiap saat kita belajar dari dan dengan orang lain. Pengaruh ini bisa datang dari orang lain, kelompok, organisasi dan masyarakat
  • interacting levels and context yaitu perjalanan komunikasi manusia dalam berbagai konteks dan berbagai tingkatan baik individu, antarindividu, kelompok, organisasi dan masyarakat
  • self-fererence yaituhal-hal yang kita katakan, kerjakan dan intepretasikan kata-kata dan tindakan orang lain adalah refleksi dari pengalaman, kebutuhan dan harapan kita sendiri.
  • Self-reflexivity yaitu adanya kemampuan kesadaran diri sendiri
  • Inevitability yaitu bahwa manusia tidak dapat tidak pasti berkomunikasi.

Sumber Referensi :

PSIKOLOGI KOMUNIKASI – Dr. Nikmah Hadiati Salisah, SIP, M.Si – Buku Perkuliahan Program S-1 Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Sunan Ampel Surabaya

Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007).

Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2009)

About abdullatiefku

Check Also

PSIKOLOGI PESAN

Komunikasi antarmanusia, atau sering kali dalam beberapa literatur disebut Human Communication atau Interpersonal Communication, merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *