Home / KAJIAN / KOMUNIKASI POLITIK / Pemimpin dan Filosofi Badak dak (Sebuah Metafora Pemimpin)

Pemimpin dan Filosofi Badak dak (Sebuah Metafora Pemimpin)

Pemimpin dan Filosofi Badak

(Sebuah Metafora Pemimpin)

oleh:

Ahmad Sihabudin[1]

Diterbitkan di Harian Kabar Banten 20 juni 2015

Tulisan ini terinspirasi dari artikel yang ditulis Jakob Sumardjo berjudul “Badak-badak” dalam Harian Kompas 2 Mei 2015 yang saya baca, di sela waktu rehat sambil menunggu mahasiswa hadir untuk kuliah filsafat komunikasi bersama saya saat itu, kebetulan pokok bahasannya adalah metafora (perumpamaan), satu bahasan dari salah satu tradisi teori komunikasi “Tradisi Retorika”. Dari artikel tersebut saya larut dan berfikir ternyata kita sudah bertransformasi menjadi badak, manusia-manusia bertransformasi menjadi badak-badak. Mereka berkeliaran di kota-kota besar menyeruduk membadak (babi) buta.

Muncul pertanyaan mengapa manusia bertransformasi menjadi badak? Menurut Sumardjo (2015) karena cara berfikirnya, dan karena filosofinya. Kalau mau tetap hidup manusia harus kuat, tidak boleh lemah. Hukum kasih sayang dan harmoni itu membuat manusia lembek seperti ayam sayur. Manusia harus kuat seperti badak. Badak adalah hewan terbesar kedua setelah gajah. Gajah meskipun besar, agak lembek. Badak adalah segalanya untuk menjadi manusia penguasa. Kulitnya tebal dan keras seperti tank baja. Wajahnya juga tebal muka tanpa emosi.

Metafora manusia badak apakah hanya ada di kota-kota besar, mungkin anda kurang sependapat, karena badak habitatnya di hutan, hutan lindung lagi, di Indonesia badak hanya ada di Pulau Sumatera dan Jawa, badak Sumatera bercula dua, dan badak Jawa bercula satu, hanya satu-satunya di dunia, dan hanya ada di Banten, ini tidak bermaksud mengatakan manusia badak itu hanya ada di kota-kota dalam Provinsi Banten saja. Manusia Badak itu mudah berkembang biak hampir di setiap kota tempat berkeliarannya.

Mengapa manusia badak mudah berkembang biak, sementara badak itu sendiri sulit berkembang biak, bahkan menurut kabar Badak Sumatera diambang kepunahan, sedangkan di Jawa tinggal 50 sampai 60 ekor saja. Dalam sebuah undang-undang makhluk ini harus dilindungi, dan dikembangbiakan. Dilarang keras berburu dan membunuh badak-badak. Dan dilarang keras menghubungkan hewan ini dengan antropologi manusianya. Badak dalam tulisan ini hanyalah sebuah metafora.

Sumardjo (2015) menggambarkan kaum badak nafsu libidonya begitu besar sehingga semua yang diinginkannya harus diwujudkan. Manusia badak adalah manusia nafsu. Nafsu besar tenaga besar juga besar. Itulah sebabnya badak berbahaya bagi manusia. Nafsu besar itu biasanya menenggelamkan pikiran akal sehatnya. Apapun dilakukannya agar keinginannya terpuaskan. Jelas badak-badak itu tidak kenal malu, tidak kenal teriakan. Tebal muka. Modalnya adalah kekuatan yang luar biasa.

Pemimpin berwatak Badak

Bila melihat fenomena, menjelang Pemilukada dan Pemiluleg akan dilaksanakan serentak  ini dengan menghitung jumlah partai peserta pemilu, jumlah caleg yang bakal mendaftar mulai DPRD tingkat II, I, dan DPR RI, dan Calon Kepala Daerah mungkin lebih dari seribu bahkan ribuan orang ingin menjadi pemimpin. Semudah itukah jadi pemimpin. Apalagi memimpin sebuah wilayah baik daerah tingkat II, I, bahkan Nasional (negara) rasanya memerlukan beberapa kriteria untuk sampai menjadi pemimpin. Tulisan ini bermaksud menyampaikan aspek-aspek yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, termasuk para kandidat legislatif tersebut. Tulisan ini tidak bermaksud menggurui apalagi mengajari. Saat ini menurut perasaan saya yang mungkin keliru yang disebut Pemimpin itu atau para elit yang berkuasa baik di eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun lembaga negara independen kesan saya yang terbayang hanyalah sosok kaum badak yang ada di setiap struktur kekuasaan tersebut.

Dalam drama Ionesco seperti digambarkan Sumardjo (2015) tersebut, perubahan manusia menjadi badak digambarkan sangat mengerikan dan menakutkan. Pemikiran manusianya sedikit-sedikit berubah menjadi cara berpikir badak. Bukan aja pikirannya berubah menjadi nafsu, tetapi juga tubuhnya bermetamorfosis menjadi tegang dan kaku. Ia hanya kenal gerak lurus, sukar berbelok, apalagi lenggak-lenggok. Kulitnya menebal seperti kuku. Pendek kata pikirannya dikuasai nafsu dan tubuhnya Cuma kenal satu arah.

Sekali lagi gambaran saya mengenai pemimpin atau elit yang tengah berkuasa mungkin keliru, habitatnya sama seperti badak Jawa dan Sumatera tadi. Kaum badak itu hidup di habitat yang dekat dengan sungai dan genangan air. Badak amat bahagia di tanah-tanah becek berlumpur, yah..pokoknya asal tempat basah mereka pasti betah. Kalau manusia kena lumpur sedikit buru-buru mandi tiga kali, apalagi kalau ada najis Mugallazhoh (besar), berbasuh sampai tujuh kali, tetapi kaum badak ini tenang-tenang saja bergelimang lumpur merah-hitam. Sekali lagi saya tegaskan mungkin gambaran saya yang keliru mengenai sosok manusia pemimpin yang bertransformasi menjadi kaum badak.

Menurut Kouzes dan Posner (1987) pemimpin harus memiliki kredibilitas, yang diwujudkan dalam bentuk: kejujuran, sehingga dengan perilaku yang jujur maka bawahan akan mempercayainya atau timbul trust dari bawahan terhadap pemimpin; kompetensi, sehingga dia memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan untuk menjalankan proses kepemimpinannya; memandang ke depan, seorang pemimpin harus memiliki visi jangka panjang sehingga dia bisa membawa organisasi dengan melihat aspek keberlanjutannya; inspirasi, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan semua orang yang terlibat dalam proses organisasi, terutama dengan bawahan sehingga tercipta hubungan yang harmonis dengan bawahan, yang akhirnya dapat menunjang tercapainya efektifitas kepemimpinan.

Pemimpin dalam kepemimpinan Manajemen Mutu Terpadu (Margono Slamet, 2007) juga menjalankan fungsi sebagai manusia figur, dimana pemimpin akan memberikan teladan yang akan dijadikan panutan oleh bawahan sehingga bawahan dapat memberikan pelayanan terbaik untuk memuaskan pelangganya oleh karena itu pemimpin harus memiliki keteladanan yang ditunjukkan dalam ciri: berwawasan (vision), mampu melihat lukisan besar dari keadaan yang ingin diwujudkan dan bagaimana itu akan dicapai; percaya diri (confidence) percaya bahwa dirinya bersama timnya akan menjalankan tugas mewujudkan visi tadi betapapun kendala yang ada, kesulitan akan dapat diatasi dan yang tak mungkin hanya memerlukan waktu yang lebih panjang; mengambil resiko (risk taking), memiliki kemampuan mencoba cara-cara baru; memberi keputusan (decision making); memberdayakan orang lain (development of others), mampu memgembangkan pikiran dan tindakan kepemimpinan dalam organisasi tim, menyebar tanggung jawab dan menghargai tugas yang telah dikerjakan; pengaruh pada orang lain (influence on ohters), memiliki kemampuan untuk mempengaruhi; komunikasi (communication), kemampuan berkomunikasi baik vertikalmaupun horizontal.

Adanya gejala, manusia atau pemimpin yang menyeruduk membabi buta menurut Sumardjo (2015), seperti digambarkan dalam drama Eugene Ionesco pada tahun 1966 dipentaskan Teater Perintis pimpinan Jim Lim di Bandung. Pada waktu itu di Indonesia belum musim badak sehingga hubungan teater itu dengan kondisi zaman tidak mengena. Akan tetapi, di Eropa drama badak-badak itu langsungdi hayati para penontonnya karena mereka sendiri mengalami musim badak di seluruh Eropa. Badak-badak itu adalah tentara Nazi yang menyeruduk ke sana kemari pada mereka yang melawannya. Musim badak di Indonesia baru muncul sekitar lima tahun kemudian, di zaman Orde baru.

Di zaman reformasi populasi kaum badak terus bertambah bertambahnya secara deret ukur seperti Teori Robert Maltus, habitatnyapun kini hampir disegala tempat tidak hanya dekat sungai atau kubangan air, hutan lindung, bukit-bukit terjal pun kaum badak ada, apa lagi di perkotaan.  Dan yang mengherankan menurut Sumardjo (2015), adalah kebiasaan buang hajat mereka kaum badak, seperti manusia, buang hajat di tempat yang sama. Bedanya kalu WC manusia tenggelam ke bawah, WC kaum badak menumpuk menjulang ke atas. Kotorannya menggunung. Kalau anda melihat tumpukan kotoran menggunung dapat dipastikan itulah kotoran badak. Badak-badak itu kini berkeliaran di kota-kota besar Indonesia. Populasinya semakin bertambah, kehidupan rakyat terancam. Suadah saatnya rakyat berburu badak dengan menjebaknya ramai-ramai, umpannya adalah memancing libido mereka yang kuat.

Berburu Pemimpin Ideal

Jadi pemimpin mah …ulah nyaur teu di ukur, ulah nyabla teu di unggang, ulah ngomong sa geto-geto, ulah lemek sadaek-daek, ulah gorok ulah linyok. Tapi jadi pamimpin …kudu landung tali ayunan, kudu laer tali aisan, Kudu nulung kanu butuh, nalang kanu susah

kudu nganteur kanu sieun, ngoboran kanu poekeun.

Begitu bunyi salah satu “pikukuh” (pedoman hidup)  adat suku Baduy, yang bermukim di wilayah Banten Selatan.  Saya tidak akan mengartikan ungkapan pikukuh tersebut, dengan anggapan pembaca budiman akan lebih arif, dan bijak memaknai pikukuh itu. Saya juga percaya pembaca lebih tahu dan paham maksud dan nasihat pikukuh adat Baduy tersebut, mari  kita renungkan, karena pada dasarnya kita adalah seorang pemimpin, paling tidak untuk diri dan keluarga kita.

Pedoman itu masih dipatuhi sampai sekarang oleh orang-orang  Baduy, yang  diberi label sebagai Komunitas Adat Terpencil (KAT). Ini bertolak belakang  dengan persepsi dan praktek hidup masyarakat modern, khususnya di perkotaan. Banyak orang modern banyak bicara, semakin vokal dan keras, dianggap sebagai hal baik, semakin kuat serudukannya seperti digambarkan dalam metafora badak. Apakah orang modern lebih permisif  dan kompromistis?

Margono Slamet (2007), berpendapat mengenai Pemimpin dan kepemimpinan yang ideal, seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan yang di landasi oleh 10 pilar, antara lain: memiliki visi, disiplin, kebijaksanaan, keberanian, kepercayaan diri, pengambil keputusan, mampu mengembangkan persahabatan, mampu memahami situasi dan diplomasi, mampu mengembangkan kemampuan eksekutif, dan seorang pemimpin memberikan kekuatan inspirasi.

Merangkum pendapat, Kouzes dan Posner (1987) dan Slamet (2007), sebagai manusia figur seorang pemimpin harus memiliki kelebihan dibanding anggota-anggota lainnya. Sebab karena kelebihan-kelebihan tersebut dia bisa berwibawa dan dipatuhi oleh bawahannya. Kelebihan-kelebihan tersebut bisa digolongkan dalam sifat-sifat berikut:

▪       Kemampuan berempati pada kedudukan orang lain

▪       Kemampuan berperilaku/bertindak bijaksana

▪       Tingkat kestabilan emosi

▪       Tingkat kegesitan (surgency dan chairfull)

▪       Motivasi menjadi pemimpin

▪       Kompetensi (potensi/berkemampuan) memimpin

▪       Kemampuan Kognitif (inteligence)

▪       Tingkat kepercayaan diri (self confidence)

▪       Gaya kepemimpinan.

▪       Kemampuan berkomunikasi

Dalam pikukuh Baduy tersebut di atas jelas, pemimpin adalah figur ideal manusia sehat lahir maupun bathin, dia adalah sososk yang mulya dan dimuliakan. Tidak berwatak menyeruduk seperti badak. kaum badak nafsunya begitu besar sehingga semua yang diinginkannya harus diwujudkan. Manusia badak adalah manusia nafsu. Itulah sebabnya badak berbahaya bagi manusia. Nafsu besar itu biasanya menenggelamkan pikiran akal sehatnya. Korupsi semakin dianggap hal lumrah, apalagi dengan alasan kekurangan. Yang lebih parah dan menyakitkan lagi, banyak orang melakukan korupsi bukan karena alasan kekurangan, melainkan untuk memenuhi nafsu kerakusan. Para koruptor yang tertangkap KPK bukan orang-orang miskin, melainkan orang-orang kaya, berpendidikan dan berjabatan tinggi. Dalam konteks “pikukuh” adat Baduy, mencuri sekecil apa pun dan dengan alasan apa pun dilarang “ulah maling papanjingan” tidak boleh mencuri meskipun kekurangan.  Perhatikan yang berikut: “Mipit kudu pamit, ngala kudu menta”. Artinya, memetik harus ijin, mengambil harus minta.

Larangan mencuri, walau kekurangan itu memiliki dimensi spiritual yang tinggi. Dalam khasanah budaya Jawa ada “pitutur” (nasehat) bagaimana menjadikan keadaan kekurangan atau kemiskinan justru sebagai cambuk untuk memperkuat niat dan membajakan tekad guna terus berjuang menuju kehidupan yang makmur dan bermartabat. Bahkan, menahan lapar, mengurangi tidur dan meninggalkan kesenangan justeru dianjurkan sebagai laku prihatin. Manurut Parni Hadi (2015), Anjuran itu digubah dalam bentuk tembang Kinanti. Penggalan pertama lagu itu berbunyi: “Padha gulangen ing kalbu, ing samita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, pesunen sariranira, sudanen dahar lan guling”. Artinya,mari latih dalam kalbu, agar bathin lebih tajam, jangan cuma makan dan tidur, latihlah fisikmu, kurangi makan dan tidur. Dalam bentuk modern anjuran itu bisa dilakukan dengan  berpuasa dan sholat malam.

Pertanyaannya: mengapa agama dan ideologi modern, termasuk Pancasila, tidak berhasil menjadikan pengikutnya patuh seperti anggota Komunitas Adat Terpencil Baduy? Salah satu jawabannya, menurut Parni Hadi (2015), adalah: semakin menipisnya dimensi spiritual di tengah keriuhan ritual dalam praktek keberagamaan kita. Tentu, kita tidak harus hidup mengasingkan diri seperti suku Baduy untuk dapat mengamalkan ajaran agama dan ideologi modern secara konsekwen. Kita bisa tetap hidup secara modern dan mencapai kebahagiaan, jika kita mampu mengendalikan nafsu kita. Itulah inti dimensi spiritual ajaran agama.*#*

Sumber Bacaan:

Kouzes, James M. dan Posner, Barry Z.. 1987. The Leardership Challenge. California: Jossey-Bass Inc. Publishers.

Sumardjo, Jakob. 2015. Badak-badak, Harian Kompas, 2 Mei 2015.

Parni Hadi. 2015. Ulah Maling Papanjingan, Artikel. Seminar. Kongres Kesejahteraan Sosial VII. Padang.18-20 April.2015.

Margono Slamet. 2007. Materi Kuliah Kepemimpinan. Sekolah Pascasarjana. IPB. Bogor.

Sihabudin, Ahmad. 2015. Kebutuhan Keluarga KAT Baduy. Untirta Press. Serang.

[1] Dosen Komunikasi LintasBudaya  FISIP Untirta, Kepala Pusat Penelitian Budaya dan Pranata Sosial LPPM Untirta.

About abdullatiefku

Check Also

OPINI PUBLIK DAN PENCITRAAN

Citra terbentuk berdasarkan informasi yang diterima oleh publik, baik langsung maupun melalui media massa. Citra …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *