Home / KAJIAN / KOMUNIKASI MASSA / Tawa Canda Humor Melawan Teror

Tawa Canda Humor Melawan Teror

Tawa Canda Humor Melawan Teror

Oleh:

Ahmad Sihabudin[1]

** Diterbitkan di Harian Kabar Banten, 25 Januari 2016

Barang siapa yang membunuh seorang manusia, tanpa alasan atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka dia sekan-akan telah membunuh manusia seluruhnya. (Al-Maa’idah; ayat 32)

Teror, adalah Penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha untuk mencapai tujuan (terutama tujuan politik dan kelompoknya). Dalam UU No.15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, adalah setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan situasi teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-oyek vital strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional.

Empatbelas Januari 2016 ada tragedi teror bom, baku tembak antara teroris dengan aparat kemanan kita, tempat kejadian perkaranya berada di lokasi “premium”, salah satu pusat segala hal-hal yang penting dikerjakan dan dibicarakan. Dahulu “orang bilang belum ke Jakarta katanya kalau belum pernah ke Jalan Thamrin”. Meneror adalah panggung teater kelompok teroris sebagai sarana menyampaikan pesan, coba mereka pertontontonkan kepada publik, dan dapat disaksikan langsung melalui jaringan internet. Pertanyaannya apa yang ingin mereka sampaikan? Balas dendam, kekecawaan, frustasi, sulit dan bosan hidup, perintah komandan atau apapun motivasinya. Tetapi yang jelas mereka ingin mencari perhatian negara, menakuti masyarakat dan menciptakan kepanikan massal. Peristiwa terjadi tepat di jantung ibu kota Jakarta, tidak jauh dari Kedutaan Besar Jepang hanya 200 M dari TKP, ada juga Kedutaan Rusia, Perancis, Jerman, kantor perwikalan PBB, dan beberapa kantor kementerian Republik Indonesia antara lain kementerian Agama, Ristek, Bank Indonesia,  dan tidak jauh pula dengan Istana Negara.

Misi menarik perhatian nasional atau bahkan internasional jelas tercapai. Ucapan keprihatinan negara sahabat disampaikan baik oleh kepala negara, pemerintahan, Menteri luar negeri, Dutabesar, dan juru bicaranya. Juga reaksi dari dalam negeri baik pimpinan lembaga tinggi negara, Partai Politik, Ormas, dan para pemuka agama.

Ulasan tentang kesuksesan dan kesigapan penanganan aksi teror di Jalan Thamrin masih menghiasi pemberitaan. Searah mengalir dengan pemberitaan tersebut, kegagalan teror pun tak lepas dari kupasan media dari ragam perspektif para ahli, pengamat, dan pakar. Hal yang menarik untuk diperhatikan dan dikaji adalah cara masyarakat menyikapi aksi teror yang menakutkan tersebut dengan cara canda, tawa dan humor yang menghiasi beberapa media sosial dan bahkan menjadi trending topic di media sosial. Artinya masyarakat mampu membalikkan dan mematahkan efek dari teror yang mengerikan dan bermaksud menebar rasa takut dan panik tersebut, menjadi bahan tertawaan, lelucon, dan humor.

Humor vs Teror

Tidak lama setelah peristiwa bom tersebut, masyarakat Indonesia, khususnya nitizen menunjukkan keprihatinan tetapi kemudian membusungkan dada dengan berbagai tagar di media sosial di antaranya: #PrayForJakarta, #KamiTidakTakut, #SafetyCheckJKT, #tetaptenang. Kondisi ini tentunya hal yang baik dan positif, karena tidak larut oleh kejadian yang mengerikan tersebut, dengan cara melawan rasa takut dengan mengekspresikan melalui media sosial dan yang menarik justru menanggapi dengan cara tertawa, canda dan humor, seperti ungkapan “Teror siapa takut!! teroris”.[2] Simaklah beberapa konten kreatif dan lucu yang tersebar dalam memplesetkan teror. “Apakah teror di Jalan Thamrin, termasuk jihad? Jelas bukan, jihad itu di jalan Allah bukan di Jalan Thamrin”. “Teroris Budeg, disuruh ke Suriah, malah ke Sarinah”, “ Lapor Gan !!, Kita Gagal. Kalah Sama Polisi ganteng, tukang sate, tukang rujak, balik ke Arab boleh nggak ya..”; “Komandan ISIS di luar negri gemes kali yah, ada bom orang2 malah ngumpul ke titik ledakan, ada bom malah banyak penjual kopi dan cemilan”. dan narasi lucu lainnya.

Menurut Malik, Ekspresi di dunia maya ini menunjukkan suatu kondisi masyarakat yang sudah lelah dengan kekerasan. Sudah muak dengan terorisme. Dan tidak mau lagi kalah dengan aksi teror. Terorisme itu bertujuan membuat masyarakat merasa panik, mencekam, dan takut. Ketakutan hanya akan menunjukkan masyarakat dan negara itu lemah. Dan pelajaran penting hari ini masyarakat tetap tenang, tidak panik, dan tidak kalah dengan terorisme.[3] Coba simak komentar-komnetar ini: “Komandan ISIS: gak usah ngebom di Indonesia lagi! bikin sakit ati! malah selfie di lokasi lah! bahas tukang sate lah! debat hestek lah! hih!”; “Komandan ISIS : bagaimana keadaan di sana? Anak buah : kita salah serang negara, mereka malah pada minum kopi dan jualan”;” Komandan ISIS nangis liat orang jualan kacang di area lokai BOM wkwkwkwk”;” Komandan isis nya gk kuat org baru aja di bom masyarakat Indonesia gak ada takut2nya malah jd tempat wisata dadakan”; demikian  komentar  candaan, tertawaan, humor di media sosial.

Demikian salah satu bentuk perlawanan masyarakat pada teror terjadi kemarin, mungkin masyarakat sudah bosan dengan ancaman teroris pada setiap hari-hari besar nasional, keamagamaan maupun pada tempat-tempat umum dan vital. Dalam catatan Tim Riset MI/L-1, teror bom yang pernah terjadi di Jakarta:[4] 13 September 2000, Bom meledak di tempat parkir P2 gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ). Sebanyak 10 orang tewas sementara 90 orang lainya luka-luka dan 104 mobil rusak berat; 24 Desember 2000, pada malam natal bom meledak di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia, sebanyak 16 orang tewas; 22 Juli 2001, bom meledak di Gereja Santa Anna dan HKBP kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. Lima orang tewas; 23 September 2001, bom meledak di Plaza Atrium, Senen, Jakarta, enam orang cidera; 03 Februari 2003 bom Rakitan meledak di lobi Wisma Bhayangkari Mabes Polri, Jakarta. Tidak ada korban; 27 April 2003, bom meledak di area publik di terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta mencederai dua orang; 05 Agustus 2003, bom menghancurkan sebagian Hotel JW Marriott sebanyak 11 orang meninggal dan 152 orang lainnya mengalami luka-luka; 09 September 2004 bom mobil menghancurkan sebagian kantor Kedubes Australia, Jakarta, sebanyak 5 orang tewas dan ratusan mengalami luka-luka; 17 Juli 2009
Dua ledakan mengguncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta. Ledakan menewaskan 9 orang dan melukai lebih dari 50 orang.

Humor Satu Solusi

Dari rangkaian teror bom yang sudah terjadi, masyarakat menemukan satu cara untuk melawan teroris yaitu dengan menyikapinya dengan tawa, canda dan humor. Jika terorisme ingin menebar ketakutan, justru hari ini aksi teror membangkitkan solidaritas dan persatuan untuk tidak tunduk pada teror. Ada semangat perlawanan bersama terhadap terorisme, untuk tidak membuat teroris bangga. Justru menjadi bahan tertawaan, candaan, dan humor antar warga melalui media sosial. James Dananjaya[5] menyatakan bahwa humor adalah  sesuatu yang bersifat dapat menimbulkan atau menyebabkan pendengarannya merasa tergelitik perasaan lucunya,  sehingga terdorong untuk tertawa. Terjadinya hal ini menurut dananjaya, karena sesuatu yang bersifat menggelitik perasaan disebabkan kejutannya, keanehannya, ketidakmasuk akalannya, kebodohannya, sifat pengecohannya, kejanggalannya, kekontradiksiannya, kenakalannya, dan lain-lain.

Dalam praktiknya antara humor dan lelucon memiliki sedikit perbedaan terutama apabila dilihat dari objek sasarannya. Dananjaya mengatakan bahwa lelucon adalah sesuatu yang dapat menggelitik seseorang untuk tertawa dengan menjadikan orang lain sebagai sasarannya. Sedangkan humor adalah sesuatu yang dapat menggelitik orang lain untuk tertawa dengan menjadikan dirinya atau kelompok si pembawa cerita yang menjadi sasarannya.  Cooper & Sawaf menyatakan bahwa humor merupakan sumber mata air yang universal untuk memperbesar energi dan mengusir ketegangan dalam berinteraksi dengan orang lain. Dananjaya juga mengemukakan, dengan humor kita bisa berkomunikasi dengan santai, rileks dan tidak tegang.

Humor Mengubah Framing

Selain narasi-narasi lucu mengundang tawa, simaklah bagaimana para nitizen melakukan pembelokan framing dari ketakutan menjadi hal yang biasa dan santai. Siapa duga aksi teror yang “biasanya” mencekam justru dihiasi perbincangan “polisi ganteng, kami naksir” ulasan “tukang satai”, “penjual kacang” dan sebagainya. Tertawa adalah obat terbaik, kata reader`s Digest[6], Karena itu, dalam menghadapi tekanan problematika hidup setiap bangsa mengembangkan humor yang relevan dengan zaman. Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari sense of humor. Humor membuat kehidupan ini ceria. Manusia hidup dengan naluri kuat untuk mencari kegembiraan. Bahkan humor dapat dipergunakan untuk menyajikan suatu masalah pelik yang dianggap formal dan berat menjadi suatu bentuk penyajian yang ringan dan informal. Jika teror ditujukan sebagai panggung menebar ketakutan dan kepanikan, aksi para teroris ini terdengar sumbang. Ia bagaikan pagelaran konser, tetapi penonton justru menikmati pemandangan lain. Misi konser terlihat gagal total, atau justru ia ditertawai dan disoraki penonton.

Teror tentu saja bukan hal yang pantas untuk dibuat lelucon, dan objek untuk ditertawai, tetapi saya hanya mencoba mengangkat gejala cara sebagian masyarakat menyikapi teror. Saya sadar bahwa korban dan keluarga akibat aksi teror sangat merasakan betapa sakitnya menahan luka, bahkan menanggung cacat fisik yang kadang juga bisa menjadi permanen. Karenanya, menertawai teror sekaligus ingin menghibur korban dan keluarga bahwa mereka tidak sendiri. Ada banyak jutaan masyarakat yang siap dan sigap membantu mereka untuk melangkah maju melupakan trauma tragis peristiwa tersebut.

Menertawai aksi teror, secara positif bermaksud ingin membalikkan pesan semiotis dan jalan pikiran teroris yang ingin menanam kepanikan dan ketakutan. Bom itu meledak, tetapi ia justru membangkitkan semangat. Teror itu melukai, tetapi ia justru menuai semangat kebersamaan. Aksi itu pun mencederai, tetapi ia tidak mencerai-beraikan kesatuan. Mari sebar perlawanan terhadap terorisme. Mari tebar ketenangan terhadap masyarakat. Jangan pernah membuat teroris merasa menang..! #Kami Tidak Takut.

Riwayat Hidup Singkat:

Prof. Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si, adalah Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya pada FISIP Untirta, Lahir di Serang, 4 Juli 1965. Pendidikan S1 Ilmu Komunikasi dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.dh. Sekolah Tinggi Publisistik, tamat tahun 1989. S2 Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran tamat 1994. S3 Ilmu Penyuluhan Pembangunan dari Institut Pertanian Bogor tamat 2009. Pernah menjabat Ka Prodi Ilmu Komunikasi, Pembantu Dekan Bidang Akademik, Dekan di FIKOM IISIP Jakarta. Antara Tahun 1996 – 2001. Menjabat Dekan FISIP Untirta 2007-2011. Jabatan sekarang Koordinator Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pranata Sosial di LPPM Untirta. Menikah dengan Rahmiati Fattah, dikarunia 3 orang putra. sihab@untirta.ac.id

 

[1] Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP Univeristas Sultan Ageng Ttirtayasa. Koord Pusat Penelitian Budaya dan Pranata Sosial LPPM Untirta.

[2] Abdul Malik.http://jalandamai.org/kala-teror-menjadi-humor.html

[3] Abdul Malik. KamiTidakTakut,  Mari Bersama Lawan Terorisme.http://jalandamai.org/2369.html.

[4] http://www.mediaindonesia.com/news/read/24988/teror-bom-yang-pernah-terjadi-di-jakarta/2016-01-14.

[5] James Dananjaya, Folklore Indonesia. Gramedia. Jakarta.

[6] Jalaluddin Rakhmat,  Retorika modern pendekatan praktis cetakan ke-4,(Bandung: Remaja Rosdakarya 1998), h. 122

About abdullatiefku

Check Also

Potret Perjuangan Perempuan (Dalam Sastra)

Potret Perjuangan Perempuan (Dalam Sastra) Oleh: Ahmad Sihabudin[1] Diterbitkan di Harian Kabar Banten, dalam rangka …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *