Home / KAJIAN / ORGANISASI & BUDAYA / Prilaku Konformitas Orang Baduy

Prilaku Konformitas Orang Baduy

Prilaku Konformitas Orang Baduy

Oleh:

Ahmad Sihabudin[1]

Lojor teu beunang dipotong, pondok teu beunang disambung,

Gunung ulah dilebur, lebah ulah diruksak.

(Filosofi Orang Baduy tentang prilaku apa adanya)

**Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kabar Banten dalam beberapa Seri di tahun 2016

 

Prilaku Konformitas

Konformitas dalam bahasa Inggris conformity, yang berarti jenis pengaruh social saat individu mengubah sikap dan tingkah lakunya, agar sesuai dengan norma social dan nilai masyarakat yang ada. Singkatnya penyesuaian diri. Masyarakat baduy dapat dikatakan dalam sudut pandang kita memiliki prilaku yang tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman saat ini, atau prilakunya tidak konformitas (nonconformity).

Menurut Mulyanto et.al (2006), sejak digulirkannya deklarasi Renaisans pada abad pertengahan di Eropa, modernisasi, industrialisasi dan kemajuan teknologi dengan semangat positivisme telah menjadi arus utama yang mengglobal. Bangsa yang tidak menyesuaikan diri (conform) dengan arus utama ini, akan diklaim “ketinggalan zaman”.

Sejalan dengan itu, KAT Baduy sebuah komunitas yang hidup sangat sederhana dengan menggantungkan hidup terutama dari bercocok tanam padi dan tanpa menghiraukan dengan perkembangan zaman.  Masyarakat yang sangat tertutup dari pengaruh budaya luar ini, dikenal dengan sebutan Masyarakat Baduy, orang Baduy atau orang Kanekes (Djoewisno, 1988).

Menurut Mulyanto et.al (2006), prinsip yang dimiliki dan dijalani oleh masyarakat Baduy antara lain: tidak membangun permukiman dari bebatuan, semen, genting, paku atau produk industri modern lainnya. Berkali-kali tawaran pembangunan dari Pemerintah Propinsi maupun Kabupaten berupa pembangunan jalan, listrik masuk desa, balai pengobatan, sekolah hingga pengadaan alat tenun  ditolak masyarakat Baduy karena dianggap bertentangan dengan ketentuan karuhun dan adat.

Namun beberapa hal msyarakat baduy juga sudah mulai mau menerima seperti alat tenun mereka sudah mau menerima bantuan dari pihak luar, pengobatan medis, bahkan keluarga berencana mereka sudah mau menerima.

Apabila puun sudah menimbang dan memutuskan sesuatu, maka keputusan itu pula yang akan dilaksanakan segenap warga Baduy. Akibat penolakan-penolakan terhadap modernisasi diatas, program pemerintah hanya bisa dilakukan sampai perbatasan wilayah luar Baduy, yaitu sampai Desa Ciboleger.

Gambaran diatas menunjukkan, pada saat keluarnya pernyataan sikap lembaga adat, diwaktu bersamaan muncul pula konformitas warga Baduy. Keputusan lembaga adat, tidak akan memiliki kekuatan apapun tanpa adanya konformitas warga yang mendukungnya. Komunalisme tidak akan terjaga, jika tidak ada konformitas para penganutnya.

Menurut Matsumoto (2004) dalam Mulyanto et.al (2006), konformitas disini sederhananya diartikan sebagai sikap mengalah seseorang pada tekanan sosial, baik yang nyata maupun yang dibayangkan.  Pertanyaannya, apakah warga Baduy tidak mengalami “keterpaksaan” dalam melakukan konformitas tersebut? Bentuk-bentuk perilaku konformitas seperti apa yang dilakukan masyarakat Baduy? Apakah semua warga Baduy melakukan konformitas?

Konformitas Dalam Bentuk Perilaku

Manifestasi konformitas dalam bentuk perilaku masyarakat Baduy dapat dilihat dari 1) cara berjalan orang Baduy, 2) aktivitas perladangan, 3) upacara ngawalu, ngalaksa, seba  dan 4) aktivitas daur hidup.

1) Cara berjalan orang Baduy.

Orang-orang Baduy mengenal istilah “Nguruy” yang artinya berjalan beruntun satu per satu. “Nguruy” menjadi kebiasaan berjalan orang Baduy karena kondisi jalan setapak di lereng pegunungan Kendeng tempat mereka hidup yang lebarnya hanya berkisar 1-2 meter. Menariknya, cara berjalan ini tetap dipertahankan meskipun orang-orang Baduy tengah berjalan di jalan besar perkotaan yang bukan lagi jalan setapak. Tata cara berjalan orang Baduy mensyaratkan orang tua atau orang yang ditokohkan harus berjalan paling depan, artinya menghargai para tetua dan melambangkan dalam setiap aktivitas apapun, masyarakat selalu mengikuti aturan adat. Cara berjalan ini juga memiliki tujuan etis yaitu untuk mencegah orang membicarakan atau menjelek-jelekkan orang lain yang itu tidak dibolehkan oleh adat, karena berjalan berdampingan akan menstimulus seseorang untuk membicarakan keburukan orang lain. Mulyanto, et.al (2006). Dengan kata lain masyarakat Baduy cenderung tidak bergosip.

2) Aktivitas perladangan.

Orang Baduy merupakan peladang murni. Berladang merupakan tumpuan pokok mata pencaharian mereka. Sistem perladangan yang dikenal berupa per-ladangan berpindah. Aktivitas berladang disebut ngahuma. Bagi warga Baduy yang sudah berkeluarga, wajib memiliki huma sendiri dan mematuhi tata aturan perladangannya.

Berladang ibarat ibadah dan sakral bagi komunitas adat Baduy (Sihabudin, 2009). Orang Baduy merupakan peladang murni. Berladang merupakan tumpuan pokok mata pencaharian mereka. Sistem perladangan yang dikenal berupa perladangan berpindah (Iskandar, 1992:29). Aktivitas berladang disebut ngahuma. Bagi warga Baduy yang sudah berkeluarga, wajib memiliki huma sendiri dan mematuhi tata aturan perladangannya.

Tradisi orang Baduy mengenal 5 macam huma berdasarkan fungsinya, yakni huma seranghuma puun dan kokolothuma tangtuhuma tuladan, serta huma panamping. Huma serang merupakan huma adat milik bersama. Penggarapan huma ini dikerjakan secara bersama-sama oleh segenap masyarakat Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, dipimpin oleh pimpinan adat atau puun  dengan waktu yang sudah ditetapkan oleh lembaga adat. (Mulyanto et.al, 2006), Sihabudin (2009).

Menurut Mulyanto,et.al (2006) dalam Sihabudin (2009:123). Narawas, artinya mencari atau memilih lahan untuk dijadikan humaNyacarberarti menebas rumput atau semak belukar. Nukuh, berarti mengeringkan rumput dan hasil tebasan lainnya. Ngaduruk adalah kegiatan membakar sampah yang telah dikumpulkan pada kegiatan nukuhNgaseuk, artinya membuat lubang kecil dengan menggunakan aseukan (penugal) untuk mananam benih padi. Menugal dilakukan oleh pria, sedangkan memasukepala keluargaan benih padi ke dalam lubang tugalan dilakukan oleh perempuan. Ngirab sawan, membersihkan sampah bekas ranting dan daun atau tanaman lain yang mengganggu tanaman padi yang sedang tumbuh. Mipit adalah kegiatan pertama kali memetik atau menuai padi. Tiga bulan saat pemanenan tersebut sering pula dikenal dengan bulan kawalu. Penelitian ini dilakukan pada bulan ngaseuk huma warga sampai menjelang bulan kawalu tembeuy.

Dibuat, berarti menuai atau memotong padi (panen). Ngunjal, artinya mengangkut hasil panen padi dari huma ke lumbung padi. Nganyaran, upacara makan nasi baru atau nasi pertama kali hasil dibuat di huma serang. Seluruh tata urutan perladangan di ikuti oleh masyarakat Baduy.

Berdasarkan uraian aktivitas perladangan, dapat disimpulkan kegiatan yang berpotensi memunculkan perilaku konformitas masyarakat Baduy yaitu, segala runtutan kegiatan yang berkenaan dengan huma serang, mulai ngaseuk serang sampai ngunjal. Setelah huma serang, kemudian huma puun dan kokolot. Jika warga tidak terlibat, maka sistem kebudayaan Baduy tidak akan berfungsi dengan baik, karena berangkatnya segala upacara adat di Baduy berawal dari hasil perladangan, terutama huma serang.

Partisipasi warga merupakan prasyarat berfungsinya sumber produksi yaitu ladang. Hasil produksi ladang merupakan prasyarat berfungsinya budaya, yaitu upacara adat. Oleh karenanya konformitas menjadi prinsip primer terkait berfungsinya budaya. Sesuai dengan uraian Kaplan (2002), konformitas penganut budaya menjadi keniscayaan berfungsinya sistem ekologi budaya setempat.

3) Upacara Kawalu, ngalaksa, dan seba

Menurut Sihabudin,  (74:2009) kecintaan dan penghormatan orang Baduy pada alam terlihat dalam berbagai aktivitas kehidupan terutama saat akan melakukan perladangan, berhuma, selalu ada upacara yang tujuannya sebenarnya menghormati alam, karena mereka sangat mejaga keseimbangan alam, seperti, upacara Kawalu, ngalaksa, dan seba. Ada tiga kegiatan upacara terkait dengan kegiatan perladangan yang harus diselenggarakan oleh orang Baduy. Kawaluadalah upacara dalam rangka “kembalinya” padi dari ladang ke lumbung dilakukan sebanyak tiga kali, masing-masing sekali dalam tiap-tiap bulan kawaluKawalu awal disebut kawalu tembeuy atau kawalu mitembeuy, kemudian kawalu tengah, dan terakhir kawalu tutug. 

      Ngalaksa, berarti kegiatan atau upacara membuat laksa, semacam mi tetapi lebih lebar, seperti kuetiaw yang terbuat dari tepung beras. Keterlibatan warga sangat dijunjung tinggi pada saat upacara ngalaksa karena upacara ini menjadi tempat perhitungan jumlah jiwa penduduk Baduy. Bahkan, bayi yang baru lahir maupun janin yang masih didalam kandungan juga akan masuk hitungan ketika upacara ngalaksa. Oleh karena sifatnya yang sakral, maka upacara ngalaksa dan kawalu tidak boleh disaksikan oleh orang luar, termasuk peneliti.

Seba, berasal dari kata nyaba artinya menyapa yang mengandung pengertian datang mempersembahkan laksa disertai hasil bumi lainnya kepada penguasa nasional. Substansi seba adalah silaturrahmi pemerintahan adat kepada pemerintah nasional seperti camat, bupati dan gubernur yang diadakan setahun sekali. (Garna, 1994, Mulyanto et.al, 2006, Permana, 2007, Sihabudin, 2009).

4) Aktivitas Daur Hidup,

berdasarkan hasil observasi di salah satu perkampungan Baduy, Kampung Marenggo, Balimbing, Kaduketug, umumnya kehidupan sehari-hari orang Baduy berjalan secara rutin, mulai dari bangun tidur, makan, ke huma, sampai tidur lagi. Hari istirahat atau libur orang Baduy adalah hari Selasa. Berikut aktivitas keseharian orang Baduy: Isuk-isu, membereskan rumah, persiapan masak, ada yang mulai berangkat ke huma; Rangsang, memasak, mencuci, mengasuh anak, ke huma; Tengari pulang ke rumah untuk makan, atau makan di huma; Lingsir, akhir kerja di huma, istirahat di huma atau langsung pulang ke rumah; Burit, pulang ke rumah dari huma, mandi, makan; Sareureuh buda, anak-anak istirahat dan tidur, dewasa masih berbincang-bincang di sosoro rumah; Sareureuh kolot orang tua dan dewasa istirahat, mulai tidur; Tengah peuting orang dewasa tidur, ronda malam bergerak; Janari leutik, bangun tidur bersiap ke huma / masih tidur. (Sihabudin, 2009: 132).

Sebagai penutup bagian ini saya sampaikan pepatah bekerja orang Baduy, “Jadi Jalma mah Kudu teguh kudu patuh, Kudu cageur kudu bageur, Kudu pinter kudu bener Kudu jalingeur kudu cingeur; Manuk hirup ku jangjangna Lauk hirup ku asangna, Jelema hirup ku akalna Otak, Taktak, jeung Ceplak, Mun teu bisa unyeum-unyeum , kudu bisa unyam anyam.1#

Konformitas dalam bentuk penampilan akan terlihat pada pakaian dan tampilan keseharian orang Baduy, serta permukiman atau rumah orang Baduy.

(a) Pakaian

Hasil pengamatan, pakaian warga Baduy Luar terdiri dari tiga bagian: (1) ikat kepala, (2) baju, dan (3) kain sarung atau calana komprang, sejenis celana pendek berukuran sebatas lutut. Warna khas pakaian warga Baduy Luar adalah hitam dan biru tua bermotif batik atau bergaris putih. Kain pakaian yang digunakan biasanya datang dari luar Baduy, seperti dari pasar Rangkasbitung, Tanah Abang Jakarta atau daerah lain yang kemudian di jahit dan ditenun sendiri.

Pakaian disebut jamang komprang atau mirip dengan baju orang tangtu (Baduy Dalam) hanya saja berkancing dan biasa memakai dua lapis, bagian dalam berwarna putih alami, sedangkan bagian luar berwarna hitam atau biru tua. Calana komprang yang dikenakan laki-laki Baduy Luar juga berwarna hitam atau biru tua.

Adapun pakaian perempuan Baduy Luar adalah kebaya berwarna biru dan kain dengan warna yang sama. Bahan pakaiannya juga diperoleh dari luar daerah. Namun, pakaian pada orang panamping baik lelaki maupun perempuan, hampir serupa dengan pakaian yang digunakan oleh masyarakat pedesaan di Banten umumnya.

Mengenai pakaian orang Baduy khususnya orang Baduy Dalam (Orang Tangtu) menurut Mulyanto, Prihartanti, Moordiningsih, (2006:12), dan hasil pengamatan dan wawancara sebagai tambahan informasi, pakaian  Baduy Dalam berwarna putih dan hitam. Bahannya dibuat sendiri dari serat daun pelah yang ditenunkan oleh warga panamping. Lelaki tangtu menutupi tubuhnya dengan tiga bagian, yaitu: (1) ikat kepala berwarna putih (kecoklatan) yang sering disebut iket, telekung atau romal terbuat dari kain berbentuk segitiga, (2) baju berwarna putih, dan (3) sejenis kain sarung dengan panjang sekitar 30-40 cm, berwarna biru tua.

Baju yang dikenakan berlengan panjang, seperti kaos, tanpa kerah dan kancing. Sejenis kain sarung yang berfungsi sebagai penutup tubuh bagian bawah disebut aros, biasa dikenakan dengan cara dililitkan di pinggang kemudian diikat memakai tali dari kain, mirip ikat pinggang dengan ukuran sampai lutut. Lelaki Baduy Dalam (tangtu) tidak mengenakan celana dalam.

Adapun pakaian perempuan tangtu terdiri dari (1) kemben ”sejenis selendang” yang digunakan untuk menutup tubuh bagian atas atau baju kaos, dan (2) lunas atau kain untuk menutupi tubuh bagian bawah. Seringkali di kalangan orang tua, hanya menggunakan kain lunas saja. Perempuan tangtu juga tidak mengenakan pakaian dalam.

Pada umumnya cara berpakaian orang Baduy, baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam, adalah sama seragam Baduy Luar menggunakan corak warna hitam dan biru tua bermotif batik atau bergaris putih. Baduy Dalam berwarna putih dan hitam. Meskipun ada orang Baduy Luar ada yang sudah menggunakan pakaian seperti bukan orang Baduy tapi jumlahnya sangat sedikit.

Keseragaman orang Baduy dalam berpakaian ini dilakukan karena:

(1)    Merupakan ajaran dari leluhur harus seragam.

(2)    Ciri khas kelompok, kalau tidak seragam nanti tertukar antara orang Baduy dengan orang non Baduy dan intinya jangan sampai menyerupai penampilan orang luar.

(3)    Warna hitam-putih sebagai lambang dari waktu malam dan siang. Artinya manusia itu jangan terlalu banyak pikiran, sebab alam saja hanya ada dua pilihan: malam atau siang; ada senang, ada susah; ada gelap ada terang, dan itu abadi.

(4)    Baik orang tangtu maupun panamping tidak beralas kaki, hal ini dilakukan karena:  Pertama, ketentuan mutlak leluhur jadi harus seragam. Kedua, kalau pakai alas kaki, nanti menghilangkan ciri khas Baduy. Ketiga, kondisi geografis dapat membuat alas kaki cepat putus, dan karena hutan, pakai alas kaki juga percuma karena kaki akan tetap kotor. Keempat, merasakan alam karena menggambarkan keseimbangan dan kelestarian alam.

Makna hidup orang Baduy yang sederhana namun memiliki kualitas penghayatan yang dalam, kemudian menjadi satu panduan perilaku komunal.  Pada saat bersamaan mengarah pada kesetaraan dan saling menghargai antara sesama. Adanya dorongan untuk mempertahankan identitas kelompok menjadi kekuatan munculnya perilaku konformitas.

(b) Rumah dan Pemukiman Orang Baduy

Rumah merupakan tempat mereka berteduh, melakukan aktivitas keluarga, mendidik anak, dan untuk melakukan pertemuan. Berdasarkan pengamatan, rumah orang Baduy nampak seragam. Semua terdiri dari kayu, bambu, kiray “daun rumbia”, ijuk pohon aren, rotan dan batu yang diperoleh dari alam sekitar. (Sihabudin, 2009; Mulyanto, et.al. 2006)

Hasil pengamatan rumah-rumah masyarakat Baduy berbentuk panggung, oleh karenanya terdapat kolong antara lantai rumah dan tanah dengan ketinggian antara 50-70 cm. Rumah orang Baduy besarnya sekitar 7X5 meter pada umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu sosoro dan tepas ’bagian luar’, imah dan musung ’bagian tengah’, serta parak ’bagian dapur’. Semuanya disekat dengan bilik. Ciri khasnya rumah orang :

(1) selalu menghadap utara-selatan,

 (2) tidak menggunakan tembok, kaca,

(3) tidak ada jendela. Untuk sirkulasi udara dan penerang ruangan, hanya terdapat lubang kecil pada bilik dinding rumahnya,

(4) tidak memiliki pagar pembatas halaman rumah,

(5) di tangtu atau Baduy Dalam, lahan yang digunakan membangun rumah tidak diratakan terlebih dahulu sehingga konstruksinya disesuaikan dengan struktur tanah, dan

(6) di panamping atau Baduy Luar, tanah yang digunakan untuk membangun rumah, diratakan terlebih dahulu. (Mulyanto, 2006:12).

  Pemakaian paku dilarang dan tanah tidak boleh diratakan, karena Baduy berprinsip melestarikan alam, maka segalanya harus mengikuti kehendak alam, semua bentuk rumah seragam karena agar tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, jadi semuanya sama. Adapun teknis pembuatan rumah dikerjakan secara gotong royong.

Menurut Mulyanto (2006:15), orang Baduy menganggap hidup harus dijalani dengan sederhana, semampunya, dan sewajarnya. Pertama, hidup adalah untuk mencari kebahagian, bukan untuk mengejar materi. Kedua, tercukupi kebutuhan fisik; makan cukup, pakaian ada, dan bisa berbakti kepada orang tua. Ketiga, untuk mencari bahagia maka harus jujur, benar, dan pintar. Pintar saja tapi tidak benar, hal itu tidak indah. oleh karenanya jangan ada syirik, licik, jangan memfitnah, jangan berbohong, jangan selingkuh. Percuma hidup kalau hanya jadi tukang menipu dan menindas orang lain. Saling harga menghargai diantara keluarga inti, sesama anggota kelompok Komunitas Baduy Luar, dan kepala kampung. Terjadi di lingkungan KAT Baduy Luar. Saling menghargai adalah salah satu norma nilai budaya yang berpengaruh terhadap perilaku masyarakat Baduy.

Menurut Mulyanto, et.al (2006:15), Sihabudin (2009:75) konsep kebersamaan, dan hubungan antar sesama manusia bagi orang Baduy penting untuk menjujung tinggi harkat dan martabat. Rumah, pakaian dan pakaian sehari-hari menunjukan kesamaan. Tidak ada perbedaan antara “penguasa” dan “rakyat biasa” dan tidak ada perbedaan pula antara yang “kaya” dan yang “miskin”. Tidak ada perselisihan dan permusuhan. Sebagaimana nilai kebersamaan dibawah ini: teu meunang pajauh-jauh leungkah pahareup-hareup ceurik pagaet-gaet lumpat      (tidak boleh berjauh-jauh langkah berhadapan nangis berdekatan lari) undur nahan tembong pundung datang nahan tembong tarang (pergi jangan perlihatkan kekecewaan, datang jangan perlihatkan kesombongan).2#

1) Pandangan tentang sekolah. Sekolah formal dilarang oleh adat,  kuatnya keyakinan  masyarakat terhadap Hukum Adat, rendahnya tingkat pendidikan karena warga baduy dilarang bersekolah secara formal (Kurnia dan Sihabudin, 2010:230),  alasan pertama, karena menurut jaro Cibeo, cukup bagi orang Baduy mengurus wiwitan, sekolah formal itu untuk mengurus negara, biarkan orang luar yang mengurus negara. Kedua, kalau orang sudah sekolah, nanti pintar, kalau sudah pintar nanti akan berbuat semaunya yang itu tidak etis.

Meskipun tidak berpendidikan formal menurut Mulyanto (2006), sebagian masyarakat bisa membaca, menulis, dan berhitung. Hal tersebut dipelajari dari pengunjung yang datang ke Baduy. Bukti tulisan masyarakat Baduy terlihat pada kayu-kayu di rumahnya, yang ditulis menggunakan arang. Tulisan yang ditulis yaitu nama mereka sendiri.  Selain belajar dari interaksi dengan pengunjung, orang Baduy juga mengenal huruf dari abjad hanacaraka dan kolenjer (huruf-huruf sunda kuno).

Mengenai pandangan KAT Baduy tentang alat transportasi, menjual padi, larangan hewan berkaki empat, dan pengobatan tradisionil, berikut saya ringkaskan hasil penelitian Mulyanto, Prihartanti, Moordiningsih, (2006) sebagai berikut:

2) Pandangan tentang penggunaan alat transportasi. Selain sekolah, keseragaman pandangan orang Baduy juga ada ketika merespon transportasi modern, seperti mobil, motor atau kereta. Namun, konformitas terhadap larangan penggunaan alat transportasi ini, hanya ada di Baduy Dalam saja. Bagi orang Baduy Dalam naik kendaraan merupakan salah satu pantangan, karena hal itu sudah melanggar adat dan akan dihukum adat. Larangan tersebut membuat para tokoh adat, termasuk puun melarang pula orang-orang tangtu berjalan terlalu jauh, seperti ke Jakarta atau ke Tangerang, karena khawatir jika nanti lelah kemudian naik mobil, lalu akhirnya terjadi pelanggaran adat. Meskipun tidak diikuti oleh para tokoh adat, orang Baduy akan mengaku sendiri jika dirinya melakukan kesalahan dengan naik kendaraan.

3) Pandangan tentang menjual padi. Prinsip dari orang Baduy adalah dari pada menjual lebih baik membeli. Padi dari huma tidak difokuskan untuk makan sehari-hari tapi untuk antisipasi hari tua. Adanya konformitas pada prinsip ini membuat ketahanan pangan masyarakat Baduy menjadi sangat kuat.

4) Pandangan tentang larangan memelihara binatang berkaki empat. Adat Baduy melarang memelihara binatang berkaki empat. Alasannya karena hewan tersebut perilaku seperti maling, dapat merusak alam, kebun atau tanaman milik orang lain yang selama ini dijaga kelestariannya.

  1. Pandangan tentang kesehatan,Jaro Sami menegaskan bahwa, yang dicari tiap hari tiap malam oleh masyarakat kami baik secara lahir maupun bathin dengan berdoa atau pake jampi-jampi, tiada lain tiada bukan ingin sehat dan benar alias mencari Kesehatan bukan menolak kesehatan.

Penjelasan tokoh adat tersebut,  pandangan dan  konsep hidup sehat serta prilaku hidup sehat di masyarakat Adat Baduy sudah tidak diragukan lagi keberadaannya sejak kesukuan mereka lahir. Namun yang menjadi bahan pemikiran dan kajian kita sebenarnya lebih tertuju pada aspek penerapannya, apakah penerapannya sudah menggunakan dan selaras dengan konsep-konsep ilmu kesehatan modern? Apakah pola-pola hidup mereka sudah memenuhi standar kesehatan? Kalau ya, sejak kapan mereka memulai pola hidup sehat dengan konsep ilmu kesehatan modern? Untuk memenuhi kejelasan jawaban atas pertanyaan diatas, maka penulis mencoba mencari informasi dan data-data ke pihak yang terkait. Pandangan tentang pengobatan modern menurut Mulyanto dkk (2006), pada dasarnya tidak ada larangan dalam masyarakat Baduy untuk mengobati penyakit pada pengobatan modern.

Berdasarkan paparan tentang perilaku konformitas yang terurai dalam bentuk aktivitas, penampilan, dan pandangan masyarakat Baduy diatas maka terlihat jelas konformitas dalam masyarakat Baduy merupakan konformitas yang memiliki kedalaman makna dan mengandung kearifan lokal nilai-nilai hidup. Konformitas menjadi perilaku yang dianjurkan, bahkan dipandang penting sebagai prasyarat berfungsinya tatanan kehidupan, tatanan budaya dan hubungan interpersonal warga Baduy.

Konformitas sebagai Bentuk Kepatuhan

Sebagaimana pendapat Matsumoto (2004) bahwa dalam budaya-budaya tertentu, konformitas tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang baik, hal itu bahkan menjadi prasyarat keberhasilan berfungsinya kebudayaan, kelompok dan hubungan interpersonal anggota budaya tersebut.

Adapun kondisi psikologis yang menyertai pelaku konformitas adalah:

1)      Konformitas dilakukan berdasarkan kehendak pribadi dan bukan paksaan.

2)      Warga tidak akan ikut campur bila ada yang nonkonformitas.

3)      Warga tidak merasa tertekan, bahkan konformitas adalah ekspresi aktualisasi diri.

4)      Warga betah tinggal di Baduy, meskipun aturan adat ketat namun bertujuan baik.

5)      Warga tidak ingin berbeda dengan ketentuan adat.

6)      Orang Baduy akan jujur, bila melakukan pelanggaran adat.

Berdasarkan data kondisi psikologis dan uraian sebelumnya, maka dapat disimpulkan sekurangnya ada empat faktor yang mempengaruhi konformitas dalam masyarakat Baduy yaitu: 1) kepercayaan orang Baduy terhadap kelompok sebagai sumber kebenaran, 2) rasa takut orang Baduy terhadap penyimpangan dan pelanggaran, 3) kekompakan warga Baduy dan 4) besarnya ukuran warga Baduy yang sependapat. Sampai kapan konformitas ini akan bertahan?###.

DAFTAR PUSTAKA

Danasasmita, Saleh., dan Anis, Djatisunda, 1986. Kehidupan Masyarakat Kenekes. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi).

Djoewisno, MS., 1987. Potret Kehidupan Masyarkat Baduy. Jakarta: Khas Studio.

Ekadjati, Edi S. 1995. Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah). Jakarta: Pustaka Jaya.

Garna, Judistira, K. 1993a.  Masyarakat Baduy di Banten., dalam Koentjaraningrat (ed) Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Depsos RI, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial, dan Gramedia.

_______. 1993b. Orang Baduy di Jawa: Sebuah Studi Kasus Mengenai Adaptasi Suku Asli Terhadap Pembangunan., dalam Lim Teck Ghee dan Alberto G. Gomes (peny). Suku Asli dan Pembangunan di Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

_______.1994. Masyarakat Tradisional Banten dan Upaya Pelestarian Nilai-Nilai Budaya. Serang. Makalah pada Seminar Puncak-Puncak Perkembangan Warisan Budaya Banten. Forum Ilmiah Festival Banten 1994. Serang 28-29 Agustus.

_______.1985. Masyarakat Baduy dan Siliwangi (Menurut Anggapan Orang-Orang Baduy Masa Kini).  Jakarta: Dewan Nasional Untuk Kesejahteraan Sosial, Depsos RI – Gramedia.

Iskandar, Johan. 1992. Ekologi Perladangan di Indonesia. Studi Kasus Dari Daerah Baduy Banten Selatan, Jawa Barat. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Koentjaraningrat. 2004. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Cetakan ke-21. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kusdinar, Aan. 2004. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Lebak dalam Penanganan Komunitas Adat Terpencil Baduy. Prosiding Seminar Pengembangan Kawasan Tertinggal Berbasis Komunitas Adat Terpencil. Jakarta: Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal BAPPENAS.

Kurnia, Asep, dan Sihabudin, Ahmad., 2010. Saatnya Baduy Bicara. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

Matsumoto, D. 2004. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

Mulyanto , Nanik Prihartanti, dan Moordiningsih. 2006. “Perilaku Konformitas Masyarakat Baduy”. http: //eprints.ums.ac.id/650/1/1 PERILAKU KONFORMITAS Baduy.doc. download 19 Januari 2009.

Pasya. Gurniwan Kamil. 2005. “Strategi Hidup Komunitas Baduy di Kabupaten Lebak Banten.” Disertasi. Program Pascasarjana. Bandung:Universitas Padjadjaran.

Permana, R. Cecep Eka. 2006. Tata Ruang Masyarakat Baduy. Jakarta: Wedata Widya Sastra.

Purnomohadi, Srihartiningsing. 1985. ”Sistem Interaksi Sosial-Ekonomi dan Pengelolaan Sumberdaya Alam Oleh Masyarakat Badyi di Desa Kanekes, Banten Selatan.” Tesis. Bogor: Pascasarjana Jurusan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Institut Pertanian Bogor.

Slamet, Margono. 2003. ”Pemberdayaan Masyarakat”. Dalam Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Diedit oleh: Ida Yustina dan Sudrajat. Bogor: IPB Press.

Sihabudin, Ahmad. dan Amiruddin, Suaib. 2008. ”Prasangka Sosial dan Efektivitas Komunikasi Antar Kelompok (Studi Tentang Pengaruh Prasangka Sosial Terhadap Efektivitas Komunikasi Antar Kelompok Baduy Luar, Baduy Dalam, dan Masyarakat Ciboleger Kabupaten Lebak Provinsi Banten).” Bandung: Mediator Jurnal Komunikasi. FIKOM. Universitas Islam Bandung.

Sihabudin, Ahmad. 2009. Persepsi KAT Baduy Luar Terhadap Kebutuhan Keluarga di Kabupaten Lebak Banten. Disertasi. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.

[1] Kapuslit Budaya dan Pranata Sosial LPPM Untirta dan juga Pengurus Yayasan Getok Tular.

About abdullatiefku

Check Also

Pers Media Perjuangan Konglomerat

Pers Media Perjuangan Konglomerat[1] Oleh: Ahmad Sihabudin[2]  Beberapa hari ke depan, Pers kita merayakan hari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *