Home / KAJIAN / KOMUNIKASI MASSA / Bahasa Daerah Terpinggirkan 

Bahasa Daerah Terpinggirkan 

Bahasa Daerah Terpinggirkan 

Oleh:

Ahmad Sihabudin 1

Diterbitkan di Harian Kabar Banten, 23 Oktober 2017



Bulan Oktober sering juga disebut sebagai Bulan Bahasa, karena di bulan ini di ikrarkan Bahasa persatuan kita adalah Bahasa Indonesia. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang sangat kaya, saya sebut sangat kaya karena kenyataannya demikian seperti jumlah populasi penduduk kita no empat di dunia, sumber daya alam mineral, minyak dan gas bumi kita juga melimpah, juga kaya aneka tradisi dan budaya. Sebagai bangsa yang kaya akan berbagai macam budaya daerah, termasuk unsur bahasa didalamnya, menurut para ahli tercatat ada 500 hingga 700 lebih bahasa daerah di Indonesia. Itu baru bahasa daerah saja, belum bercerita tentang ragam dialek bahasa daerah yang tersebar dari ujung Barat sampai ke Ujung Timur, dari ujung Utara sampai ke ujung Selatan negara kita tercinta. Hal ini bisa saja demikian mengingat ribuan pulau yang berada dalam negara kesatuan RI ini, sehingga berbagai corak ragam budaya muncul.

Ironisnya, bahasa daerah yang tersebar di berbagai tempat merupakan kekayaan yang kurang diperhatikan, tidak hanya karena banyak proses sosial yang berlangsung telah menyebabkan bahasa itu punah, tetapi juga karena perekaman terhadap keberadaan bahasa-bahasa itu belum komprehensif mencakup aspek sosial dan politik.

Bahasa sering dianggap sebagai produk sosial atau produk budaya, bahkan merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan itu, hanya saja kurang mendapat kan perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat pendukung budaya atau yang menggunakan bahasa tersebut, tanpa disadarinya kita kadang begitu mudah mengganti satu kata dengan kata lain, misalnya kata mengirim dengan kata mentransfer, ruang pertemuan dengan meeting room, atau kamar mandi dengan toilet, dalam percakapan.

Dinilai Kurang Berfungsi 

Hal ini bisa jadi bahasa daerah dinilai kurang berfungsi dalam menyumbangkan ide dan nilai untuk pembentukan identitas nasional, sehingga tidak dipakai oleh pemilik bahasa karena berbagai hal proses sosial yang terjadi sejalan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri.

Padahal sebagai produk sosial atau budaya tentu bahasa merupakan wadah aspirasi sosial, kegiatan dan perilaku masyarakat, wadah penyingkapan budaya termasuk teknologi yang diciptakan oleh masyarakat pemakai bahasa itu. Bahasa bisa dianggap sebagai ‘cermin zamannya’, artinya bahasa itu dalam suatu masa tertentu mewadahi apa yang terjadi di dalam masyarakat.

Menurut Irwan Abdullah dan kawan-kawan yang dikutip Chatarina Pancer Istiyani : Kondisi bahasa daerah di Indonesia pada umumnya telah hilang keaslian dan kemurniannya, kurang berkembang, semakin terbatas penggunaanya, kurang berfungsi, semakin tidak dipakai, semakin terlokalisasi, semakin terancam eksistensinya, penguasaanya pemiliknya cenderung terbatas, gagal merespon kebutuhan komunikasi global, kehilangan peranannya dalam memperlancar komunikasi, sudah bergeser kearah estetis, resistensinya melemah, sehingga bahasa daerah berada dalam kondisi yang begitu terdesak.

Konteks budaya secara tersurat menunjukkan bahwa bahasa hidup di dalam budaya, di dalam masyarakat, dan di dalam manusia sebagai pemilik dan pencipta bahasa. Akan tetapi, secara fungsional pada hakikatnya bahasa berfungsi bagi kehidupan manusia dan masyarakat itu sendiri, baik sebagai simbol, sebagai indeks, sebagai penanda keberadaan manusia, sebagai sarana berpikir, sebagai alat pengungkap budi dan nurani, sebagai penanda kesatuan sosial, sebagai tanda jati diri kemanusiaan, dan secara praktis-pragmatis bahasa menjadi satu-satunya alat komunikasi yang paling halus, rumit, dan kaya.

Status Bahasa Daerah

Fenomena bahasa daerah di Indonesia sangat kompleks, terlebih adanya bahasa nasional (bahasa Indonesia) yang berkaitan dengan politik bahasa. Maksudnya, secara ekologis bahasa Indonesia berstatus lebih tinggi dan berada pada posisi dominan dari bahasa daerah.

Bahasa Indonesia sudah berkedudukan sebagai bahasa persatuan selama kurun waktu 89 tahun, sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang terdiri dari tiga butir pernyataan, yang salah satu butirnya menyatakan, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Cita-cita Sumpah Pemuda mungkin sudah tercapai terbukti dengan terpengaruhnya pemakaian bahasa daerah bahkan menggusur dan  semakin ditinggalkan oleh penutur aslinya, khususnya pada ranah-ranah tertentu, bahkan tidaklah kecil kemungkinannya bahwa pada suatu ketika, masyarakat secara total akan dan pasti beralih ke bahasa Indonesia, dapat diibaratkan bahasa daerah kini sedang berada pada posisi “terapung tidak, tenggelam juga tidak”.

Dalam keadaan yang demikian, wilayah pakai bahasa daerah jelas semakin mengecil terlebih saat ini dengan adanya proses globalisasi yang menempatkan bahasa Inggris berpengaruh besar diseluruh dunia termasuk di Indonesia. Setelah itu, keberadaan bahasa daerah akan semakin tersingkirkan ditengah kondisi masyarakat yang semakin pluralistik ini.

Menurut Ajip Rosidi dalam artikel mengapa bahasa sunda bisa mati memberikan penjelasan tentang besarnya pengaruh bahasa asing,  menurut penelitian para sarjana bahasa, selama dua abad terakhir ini kemusnahan bahasa kian menghebat. Menurut perkiraan mereka sekarang di dunia ini ada 5.000-6.700 bahasa, dan paling tidak mungkin lebih setengahnya akan mati dalam abad ke-21. Sekarang kurang lebih 60% dari bahasa yang masih ada dalam kondisi penuh risiko. Menurut para sarjana, bahasa mati tidaklah secara alami. Ada sarjana yang menggunakan istilah “bahasa dibunuh” atau “bahasa bunuh diri”. Glanville Price dalam bukunya The Language of Britain (1984), menyebut bahasa Inggris sebagai “bahasa pembunuh” (killer language). Bahasa Inggris di Britania Raya telah membunuh antara lain bahasa Irlandia dan bahasa Kornisy. Dan pembunuhan oleh bahasa Inggris kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Otonomi Daerah dan Bahasa

Hadirnya Undang Undang No.22 tahun 1999 yang menaungi otonomi daerah dapat menjadi landasan untuk dapat dikembangkan potensi lokal termasuk budaya daerah dan bahasa daerah. Sebab, lebatnya lalu-lintas informasi dan komunikasi antarbangsa dan antarbudaya telah mempengaruhi budaya serta bahasa lokal (daerah) yang sebelumnya relatif tersekat-sekat. Tidak hanya itu, kekuatan global pula yang telah mengubah struktur dan jaringan (hubungan) sosial. UU tersebut dapat kita katakan sebagai angin segar untuk daerah dalam membangun identitas lokal, termasuk mengembangkan dan memelihara bahasa lokal dengan memasukan pada kurikulum pendidikan mengisi muatan lokalnya.

Perkembangan bahasa dipengaruhi perubahan-perubahan sosio-budaya        (sosio-cultural). Karena itu, tatkala situasi historis berubah, bahasa pun sedikit banyak mengalami perubahan. Perubahan itu pada umumnya berlangsung lambat dan evolusioner. Perubahan sosial sebagai akibat persentuhan intens antarbudaya telah pula menghadirkan tipe-tipe wacana baru karena secara subtansial tatanan global itu memang mengandung nilai-nilai baru, pola hubungan baru, kendati tetap juga “berpadu” dengan tradisi lokal (daerah). Dalam hal ini, wacana bahasa daerah dalam berbagai jaringan komunikasi verbal dilingkungannya, pun berkembang sehingga fungsinya dapat diemban oleh bahasa daerah.

Bahasa merupakan cerminan pemahaman pemakai bahasa tentang kebudayaannya, masa silam dan masa sekarang. Sebagai bahasa yang hidup, ataupun bahasa yang pernah hidup, setiap bahasa hadir secara fungsional dalam budaya komunitas tertentu dalam suatu lingkungan alam dan lingkungan budaya.

Pada lingkungan budaya termasuk pula transmisi budaya antargenerasi secara canggih dinyatakan, dikemas, dikomunikasikan, singkatnya diwahanai oleh bahasa. Kehadiran bahasa berfungsi sebagai suatu proses transmisi pesan dan merupakan simbol yang pada penggunaannya ditentukan oleh suatu kelompok atau komunitas masyarakat. Semoga bahasa daerah kita tetap hidup, berkembang, tidak dipinggirkan meskipun sangat berat tantangannya di era digital dan global ini.#AS#.

Referensi :

1 Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta.

2 Sumarsono dan Paina Partama, Sosiolinguistik. Sabua dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, h. 20

  1. Chatarina Pancer Istiyani, Tubuh Dan Bahasa : Aspek-aspek Linguistis Pengungkapan Pandangan Masyarakat

Lewolema Terhadap Kesehatan, Galang Press, Yogyakarta, 2004, h.9

  1. Ajip Rosidi, Bahasa Nusantara Suatu Pemetaan Awal (Gambaran Tentang Bahasa- bahasa Daerah di

Indonesia, PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1999, h. 57-58

  1. http://www.mediakerjabudaya/bahasa daerah/ diakses pada tanggal 19 Januari 2006 pukul 21:03

Wib

About abdullatiefku

Check Also

Kedaulatan Bahasa Indonesia

Kedaulatan Bahasa Indonesia[1] 0leh: Ahmad Sihabudin[2] Terinspirasi dari acara Konfrensi Nasional Komunikasi [KNK] yang diselenggarakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *