Home / KAJIAN / Kedaulatan Bahasa Indonesia

Kedaulatan Bahasa Indonesia

Kedaulatan Bahasa Indonesia[1]

0leh:

Ahmad Sihabudin[2]

Terinspirasi dari acara Konfrensi Nasional Komunikasi [KNK] yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia [ISKI] di Solo 11-13 Oktober 2015, dengan mengusung tema “Kedaulatan Komunikasi”, sekaligus mendeklarasikan Tanggal 11 Oktober sebagai “Hari Komunikasi Nasional” di halaman Monumen Pers Nasional Kota Solo, dihadiri oleh beberapa Guru Besar Komunikasi, termasuk saya, dan tulisan ini tentunya tidak bermaksud melaporkan acara Konfrensi tersebut. Tulisan ini merupakan  instropeksi diri penulis atas kedaulatan bahasa kita, bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi berkomunikasi di wilayah NKRI, yang kerap cenderung seperti tidak berdaulat

Dan tentunya masih dalam suasana bulan bahasa, bahasa Indonesia yang menjadi media pemersatu NKRI yang kita cintai ini sangatlah dinamis perkembangannya, mengikuti perkembangan budaya masyarakatnya, dan peradaban teknologi manusia itu sendiri. Bahasa mampu mengubah peradaban manusia, demikian sering diungkapkan oleh para ahli.Seperti saya sampaikan di atas permasalahannya apakah Bahasa Indonesia sudah cukup berdaulat, dan bagaimana membangun kedaulatan berbahasa? Dalam tulisan singkat ini dua pertanyaan besar tersebut mungkin tak mampu menjelaskan. Pada kesempatan ini saya coba menuliskan satu sisi penggunaan bahasa yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat atau komunitas tertentu, dalam ajang diskusi di ruang-ruang public baik dalam suatu forum acara program televise tertentu maupun di warung-warung kopi, dan penggunaan bahasa dalam media massa dan periklanan, seolah bahasa kita ditinggalkan oleh masyarakatnya.

Kedaulatan Bahasa

Dalam  tulisan ini yang maksud kedaulatan bahasa adalah, digunakannya suatu bahasa dalam hal ini bahasa Indonesia secara sadar dan bertanggung jawab oleh masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat Indonesia, sebagai alat berkomunikasi dalam berbagai aktifitas komunikasi antarmanusia di Indonesia. Pernyataan ini tanpa bermaksud berlebihan, Dalam Undang-Undang Dasar Negara kita jelas dikemukakan Bahasa resmi Negara Republik Indonesia adalah Bahasa Indonesia.

Kenyataannya, yang teramati penggunaan bahasa Indonesia di ruang-ruang publik saja sepertinya kita malu menggunakan bahasa Indonesia, seperti dalam contoh kasus: mice cartoon di harian Kompas 4 Oktober 2015 ini; digambarkan dalam kartun tersebut suatu hari di Mall Serpong, ada terulis “In”, “Out”, “buy 1 get 1”, “lobby – Parking”, “authorized employee only”,  “caution wet floor”Intisari pesan kartun tersebut “Saya, kok menjadi terasingkan di negeri sendiri”.[3]

Itu baru satu contoh di sebuah Mall di Serpong Tangerang Selatan Banten, tentunya masih banyak contoh lain, berikut papan iklan di sepanjang jalan Kota Jakarta, Tangerang, Tol Jakarta- Merak, antara lain: Ready to be occupiedAvailable SpaceIntegrity for Excellent Distribution; The Space Need Your Creative Ads;Changes for the Better; See the Great Feel the GreatProvides Life Insurance for Indonesia;Pure quality made in USA is coming this year; Innovating Energy Technology; We Change for a Better FutureMore to the Next StageToward 60 years of Contributions in IndonesiaComfort Creates HappinessThe Promises of a healthy backbone, Crafted with passion. Itu suatu contoh menurut saya cenderung tidak berdaulatnya bahasa Indonesia di negeri nya sendiri. Contoh lain.

 

Ini fakta kita malu dalam menggunakan bahasa Indonesia, mungkin khawatir disebut Kampungan atau “kaum inlander”.Seperti pada masa kolonial Belanda. Atau memang sedang ada pergeseran nilai dalam berbahasa, padahal bahasa adalah identitas suatu bangsa. Bahasa adalah simbol pertama dan utama bagi konsep-diri seseorang. Memengaruhi kesadaran, melambangkan status, cita-rasa budaya, untuk memperoleh citra tertentu (pengelolaan kesan). Bahasa memengaruhi kehidupan kita, memengaruhi orang lain untuk memperlakukan kita, memengaruhi kita dalam mempersepsi diri-sendiri.

Menurut Eko Wahyudi[4],bahasa adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu didalamnya,yaitu segala sesuatu yang mampu termuat dalam lapangan pemahaman manusia. Mampu memahami bahasa akan memungkinkan untuk memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia. Pengaruh dan fungsi dari bahasa sangatlah luas, bahasa mampu mencetak sebuah kepribadian dan memproduksi suatu prilaku tertentu.Hal ini dikarenakan bahwa pada mulanya manusia membentuk kebiasaan melalui bahasa yang digunakannya dan kemudian kebiasaan tersebutlah yang membentuk manusia.

 

Bahasa dan Fungsinya

Kehadiran bahasa dalam kehidupan manusia tidak dapat dianggap berada dalam suatu ruang hampa.Bahasa merupakan wahana komunikasi utama manusia. Dalam arti luas, bahasa memiliki dua ciri utama; bahasa digunakan dalam proses transmisi pesan. Kedua; bahasa meupakan kode yang penggunaanya ditentukan bersama oleh warga suatu kelompok atau masyarakat.Karenanya, bahasa disebut berdimensi sosial.Ini berarti, bahasa merupakan suatu aspek kehidupan sosial manusia.

Bahasa adalah sebuah institusi sosial yang dirancang, dimodifikasi dan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan kultur atau sub kultur yang terus berubah. Karenanya, bahasa dari budaya satu berbeda dengan bahasa dari budaya lain, dan sama pentingnya, bahasa dari suatu subkultur berbeda dengan bahasa dari subkultur yang lain (Montgomery, 1986) dalam Devito (1998:157).

Dalam tulisan ini apakah memang benar sudah resmi dan sah secara aturan dan etika yang berada di masyarakat kita bahwa boleh dan sudah resmi menggunakan istilah dan frasa kata asing, pada masa pemerintahan orde baru pernah ada himbauan dan pelarangan menggunakan istilah-istilah asing, saat itu banyak pengembang memberikan nama-nama perumahan yang mereka buat, kemudian mengubahnya kedalam bahasa Indonesia seperti sebuah pengembang di Tangerang Palm Spring menjadi Palem Semi, Green Garden menjadi Taman Hijau dll.

Sekarang marak kembali penggunaan istilah asing,  seperti menu sebuah Café ini: Beef Pepper Rice; Classic Tomato Pasta with Chicken; Curry Rice with Sliced Beef;Curry Chicken Pepper Rice with CheeseCurry Rice with Chicken & Mushroom.Membaca menu yang ditawarkan kita seperti berada di sebuah negeri entah berantah, karena kenyataannya kita berada di dalam kota sendiri, tetapi bahasa yang dipakai membuat kita terasing, seperti dimana gitu. Itulah mungkin kekuatan bahasa dalam menggugah selera makan kita, tapi bisa jadi, bisa juga tidak menu-menu tersebut tidak jauh lebih enak dari ayam kari, ayam balado, semur daging sapi, atau nasi rames rendang sapi.

Berikut ini juga frasa asing di sebuah Mall: Now Open; Grand Opening; Smoke Free Zone;Free Salad Come & Melt with Us; Get your card & register now; Friday I am in Love; Buy 1 Get 1 Free20 % off valid on Saturday and Sunday; Special Birthday and Anniversary Offer; Ask our service staff for further details.Itu contoh-contoh tidak berdayanya bahasa kita dikota dan negeri sendiri, sepengetahuan saya Mall tersebut pengunjungnya adalah sebagian besar masyarakat lokal.

Realitas berlangsung dalam bahasa, tak ada realitas di luar bahasa. Tak ada cara lain untuk berpikir baik tentang dunia maupun tujuan-tujuan kita selain mengenai bahasa. Pada gilirannya, bahasa tentunya yang ditampilkan melalui pemilihan kata-kata dan penjalinannya akan membentuk realitas tertentu pula. Menurut Leksono (1998:199)[5] Bahasa yang kita pergunakan mempengaruhi apa yang kita lihat sebagai nyata, tetapi bahasa sendiri tidak mempunyai tempat di dalam yang nyata. Itu sebabnya bahasa lebih daripada sekedar alat komunikasi.Bahasa adalah suatu kegiatan sosial yang terkonstruksi dan terikat pada kondisi sosial tertentu.

Dalam bahasa antara kelompok dan subkultur mengacu pada pendapat Samovar dan Porter (Intercultural Communication 1982) disetarakan, karena tidak melihat entitas yang mana menjadi batas antara kelompok dan subkultur, dalam kenyataannya baik bersifat eksklusif maupun terbuka dia hadir ditengah-tengah kultur yang mayoritas.

Kehadiran Komunitas dan Munculnya Bahasa Gado-gado

Setiap individu menjadi anggota dari beberapa Kelompok.Tingkat kepentingan afiliasi dengan kelompok tertentu berbeda-beda pada setiap orang, konteks, dan waktu.Karena minat yang sama merupakan subkultur (munculnya kelompok-kelompok), subbahasa muncul. Adalah penting diingat bahwa istilah subkultur dan subbahasa digunakan menurut pengertian antropologi, yang artinya “segmen yang dapat diidentifikasi dari suatu kelompok yang lebih besar”, dan jangan timbul kesan bahwa subkultur dan subbahasa kalah penting dari kultur atau bahasa kelompok mayoritas.

Dalam tulisan ini yang dimaksud Subkultur, adalah kelompok-kelompok dalam sebuah kultur yang besar. Ini dapat didasarkan atas agama, wilayah geografis, pekerjaan, orientasi afeksi, suku bangsa, kebangsaan, kondisi hidup, minat, kebutuhan, dan sebagainya. Menurut Devito (1997:158)[6], kita gunakan aksioma yang digunakan secara luas dalam studi sosiologi dan bahasa – bahwa semua kultur dan bahasa adalah setara.

Istilah bahasa digunakan di sini untuk menunjukkan pada bahasa khas yang digunakan oleh kelompok subkultur tertentu yang ada dalam kultur yang lebih dominan. Pada bagian ini saya ingin ketengahkan gejala munculnya bahasa gado-gado atau campuran seperti yang dilakukan oleh kita misalnya kata-kata ini “meng-appreciate”; “me-review”; “mem-break down”; “men-treat”; “meng-apply”; “di-calculate”; “di-follow up”; “Nge-host”;”nge-match”; “menge-match-kan”; Nge-print”.

Contoh lain dapat dalam kalimat sebuah bengkel reparasi tertulis sebagai berikut: SERVICE : HP , SOFT WARE, HAFT WARE, NO SINYAL, MATI TOTAL, BLAANK LCD, MIC MATI, SPIKER MATI, KIFET MACET, HANK.

Fakta gambar seperti di bawah ini, mungkin masih banyak yang pembaca temui hal seperti ini.Jadi  lucu dan ingin tertawa bila membacanya.

Menurut JS Badudu [2013] “Kalau berkomunikasi, pakailah bahasa Indonesia.Kalau mau pakai bahasa Inggris, pakai bahasa Inggris.Jangan dicampur.Itu tidak benar.”

Penutup  danSolusi

Melihat gejala tersebut kedaulatan bahasa kita belum sepenuh berdaulat, hal ini bias saja banyak factor yang menyebabkan salah satunya adalah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi khususnya. Yang memudahkan kita mendapatkan berbagai informasi melalui jaringan internet.

Menurut “Foucoult” bahasa memiliki pengaruh pada rekayasa perilaku manusia “siapa yang mampu memberi nama, dialah yang menguasai”, dan menurut “Thomas Szas” tentang bahasa “jika didunia hewan berlaku hukum makan dan dimakan maka didunia manusia berlaku hukum membahasakan atau dibahasakan” (..seperti yg menimpa bapa Komjend Budi Waseso /Buwas).

Menurut Tommy F Awuy[7]Bahasa adalah logos (speech) ekspresi demi tercapainya kepentingan diri. Karena bahasa merupakan ekspresi pemenuhan kepentingan diri maka di sinilah manusia menyusun bahasa sebagai komunikasi kekuasaan (retorika).

Bahasa seringkali digunakan sebagai media penguasaan (penguasaan melalui bahasa), hal ini disebabkan karena bahasa dapat memaksakan pandangan konseptual pemakai bahasa, dengan cara inilah bahasa mampu mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia.[8]Transformasi bahasa ke media penguasaan biasanya berbentuk sugesti dan dapat pula berbentuk imperative.Pada tataran sugesti bahasa di fungsikan sebagai pengevaluasi realita dan untuk mempengaruhi pendengar secara langsung, bahasa sugesti bersifat motivatif atau menyetujui segala perintah melalui alam bawah sadar.Sedang pada tataran imperative bahasa berfungsi sebagai kalimat perintah biasa, namun tetap memiliki efek sebagai bentuk penguasaan.

Melihat gejala ini sebaiknya pemerintah harus ikut berperan dan hadir dalam membangun kedaluatan berbahasa, menurut Deddy Mulyana dalam ceramahnya yang dapat saya catat antara lain: Membuat dan menegakkan Peraturan Pemerintah mengenai penggunaan Bahasa Indonesia; Teladan Para Tokoh Masyarakat; Cara Baru Pengajaran Bahasa Indonesia; Sosialisasi via Media Massa, Khususnya Televisi. Semoga Bahasa Indonesia, tetap menjadi bahasa persatuan.

Bahan Pustaka:

Adiwoso, Riga. 1989. Dimensi Sosial BahasaMajalah Prisma. No. 1 Tahun XVIII. LP3ES. Jakarta.

Devito, Joseph, A. 1997. Komunikasi Antarmanusia, Kuliah Dasar. Penerjemah: Agus Maulana. Prfesional Books. Jakarta.

Leksono, Karlina. 1998. Dalam Bahasa Wanita Terpinggirkan.  Editor: Idi Subandy Ibrahim. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

http://dennyaljancukiyah.blogspot.co.id/2014/05/memahami-retorika-oleh-prof-tommy-f.html

http://www.kompasiana.com/czeslaw/kekuatan-bahasa_54ffa9a18133111e5efa6efe

Harian Kompas, 4-10-2015. MICE CARTOON.

[1] Di Publikasi Kabar Banten 16 Oktober 2015

[2] Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP UNTIRTA.

[3]Mice Cartoon, Harian Kompas, 4 Oktober 2015.

[4]http://www.kompasiana.com/czeslaw/kekuatan-bahasa_54ffa9a18133111e5efa6efe .

[5]Leksono, Karlina. 1998. Wanita dan Media: Dalam Bahasa Wanita Terpinggirkan.  Editor: Idi Subandy Ibrahim. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

[6]Devito, Joseph, A. 1997. Komunikasi Antarmanusia, Kuliah Dasar. Penerjemah: Agus Maulana. Prfesional Books. Jakarta.

[7]http://dennyaljancukiyah.blogspot.co.id/2014/05/memahami-retorika-oleh-prof-tommy-f.html

About abdullatiefku

Check Also

Mediamorfosis Pers di Era Digital

Mediamorfosis Pers di Era Digital[1] Oleh: Ahmad Sihabudin[2] Ngindung Ka Waktu Ngabapa ka zaman (beribu pada waktu, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *