Home / KAJIAN / Information Overload

Information Overload

Information Overload[1]

Oleh:

Ahmad Sihabudin[2]

“We are now suffering information overload” kata Frederikck William dalam The Communication Revolution (1982).

Banjir informasi, luapan informasi yang sangat luar biasa saat ini, ibarat badai gempa disertai tsunami informasi, tidak ada satu pun lembaga yang mampu menahan banjir dan luapan infomasi ini. Bayangkan jika anda membaca seluruh media cetak yang terbit pagi hari ini; mendengar program radio; menonton televise sejak petang hingga larut malam; atau membaca posting-an kawan group dan kawan kita melalui beragam akun media sosial yang anda miliki. Saya yakin waktu 24 jam yang anda miliki tidaklah cukup untuk digunakan dalam seluruh aktivitas itu.

Melimpahnya informasi yang disajikan berbagai media massa dan media sosial dengan segala keanekaragaman baik dari segi isi berita, informasi, iklan membuat kita bingung mana informasi yang tepat dan sesuai bagi kita.

Denyut era informasi semakin melebarkan resapan pengaruhnya di negeri ini. Era informasi global ini yang disebut Daniel Bell sebagai era pascaindustri menjanjikan berbagai prospek dan iming-iming janji dan harapan.  Menurut Malik (1997:138)[3] pertama teknologi komunikasi akan semakin canggih, melimpah dan beraneka ragam dalam bentuk dan ragamnya. Orang semakin punya banyak pilihan sesuai dengan minat, kebutuhan dan kocek-nya. Kedua akses  orang terhadap informasi semakin tinggi dan mendunia. Ini berarti akan membuat orang semakin cerdas dan terampil. Orang semacam ini menurut Toffler (1986) kelak akan membentuk kelas sosial yang disebutnya kelompok kognitariat. Ketiga, era informasi akan menjanjikan peluang banyaknya tenaga kerja yangh mengkhususkan diri bekerja di bidang produksi dan distribusi informasi, termasuk dalam proses penyimpanan data dalam computer. Dengan begitu era informasi akan semakin meningkatkan kesejahteraan  bagi masyarakat, dalam arti lain, GNP masyarakat akan makin tinggi. Orang pun akan selalu optimis.

Tetapi kita harus waspada makin berkembangnya teknologi komunikasi atau pertumbuhan ekonomi di era informasi ini misalnya tidak selalu diikuti oleh majunya bidang lain seperti politik dan budaya. William Ogsburn dalam Malik (1997)[4] misalnya menulis konsep cultural lag (ketertinggalan budaya) yang menerangkjan mengenai kebudayaan material atau teknologi selalu bergerak di garis depan peruabahan sosial. Sementara kebudayaan non-material selalu berada di belakangnya.

Era Budaya Dunia

Dalam era tanpa batas saat ini  (informasi dan globalisasi), bagian yang terpenting dari era  ini adalah teknologi informasi yang bisa menciptakan terjadinya peradaban antar manusia yang berada di antar wilayah, antar negara, dan antar bangsa, tidak ada lagi batas yg menyekat. Dalam konsep Komunikasi era ini ditandai oleh kemajuan di sektor perangkat keras komunikasi dalam bentuk: telepon, suratkabar, majalah, radio, televisi, satelit komunikasi, komputer, compact disc, video text,  Faximili, fiber optic, telepon seluler, media yang terintegrasi (multi media) berupa tab, i-pod, smart phone dan lain-lain. Era Globalisasi juga melahirkan perangkat lunak dalam wujud budaya dunia (global culture): musik pop, rock, film layar lebar, televisi global, makanan, minuman, fashion, seperti KFC, McDonald, Pizza, Coca cola, Levi’s,  dan lain-lain gaya hidup. Pada realita sosial saat ini nyata dalam kehidupan sehari-hari terlihat penggunaan perangkat-perangkat tersebut, baik di beranda rumah, di dalam rumah, maupun di dalam alam pikiran.

Lahir dalam era globalisasi ini yaitu budaya dunia. Sebuah Budaya yang menawarkan dan mampu mengubah dan tampak dalam beranda rumah kita, dalam prilaku yang tercermin dalam pembicaraan sehari-hari maupun tulisan dan berita di mass media, tentang: gossip, kenakalan remaja, konflik antar warga, Narkoba, pelanggaran alat kontrasepsi, kumpul kebo, “the other women/man”, prilaku sexual  yang tidak normal, white collar crimme, korupsi, dan pelanggaran hak azasi. Menjamurnya discoticue, pub, karaoke, perubahan pola berpakaian yang mengarah pada hal-hal yang praktis: pakaian jeans, sepatu sport, baju T.shirt (di satu sisi), dan pameran barang-barang ber-merk, Aegner, Bally, Escada, Estee dan lain-lain.

Menurut Alvin Toffler dalam Ishadi (1994:59)[5]  revolusi informasi dapat membuat satu bangsa melompat dari masyarakat tradisionil ke masyarakat industri dan ke masyarakat informasi lebih cepat tanpa harus melalui proses sejarah ribuan maupun ratusan tahun. Akibat negatifnya adalah terjadi kejutan karena perubahan yang demikian cepat. Pada kadar dan ukuran yang paling ekstrim berbentuk pecahnya negara karena pergolakan, seperti di Rusia, Yogoslavia,  runtuhnya suatu rezim seperti di Indonesia, Mesir, Libya dan beberapa negara lainnya. Pada kadar yang paling ringan berbentuk perbenturan nilai-nilai dan norma yang lazim disebut “culture shock”.

Informasi dan Life Style

Ketika masyarakat asyik terus mengkonsumsi informasi berbagai kemasan gaya hidup yang secara simbolik meningkatkan status sosial, sebagian besar didorong oleh keperkasaan media yang menyebarkan sayap bisnis dunia hiburan multinasional. Melalui media, gaya hidup populer tidak hanya disebarkan dan disatukan, tapi bagaimana cita rasa dan gaya hidup memperoleh pembenaran. Menurut George Gerbner media massa telah turut memberi andil dalam memoles kenyataan sosial. McLuhan berpendapat media telah ikut mempengaruhi perubahan bentuk masyarakat. Media tidak hanya memenuhi kebutuhan manusia akan informasi atau hiburan tapi juga ilusi dan fantasi yang mungkin belum pernah terpenuhi  lewat saluran-saluran komunikasi tradisionil lainnya (Latif dan Ibrahim, 1997:143)[6].

Apapun motif penggunaannya, media massa dan media sosial (media) sungguh merupakan keniscayaan masyarakat modern. Ada berbagai kebutuhan yang terasa berhasil dipuaskan oleh media. Kita ingin  mencari kesenangan, media massa dan media sosial dapat memberikan hiburan, kita mengalami goncangan bathin, media  massa dan media sosial dapat memberikan kesempatan untuk melarikan diri dari kenyataan. Kita kesepian media massa media sosial  berfungsi sebagai sahabat.

Menurut Jalaluddin Rakhmat Media massa (baca: televisi) telah menjadi orang tua kedua (bahkan pertama) bagi anak-anak, guru bagi penontonnya, penghibur bagi yang frustrasi, dan pemimpin spriritual yang dengan halus menyampaikan  nilai-nilai dan mitos tentang lingkungan.

Dalam keadaan demikian, media benar-benar menemukan kekuatannya  yang luar biasa untuk dapat mengawasi secara telanjang salah satu dari kekuatan signifikan yang menjadi pusat eksistensi kesadaran sosial: konsepsi mental yang membentuk wawasan manusia mengenai kehidupan. Mensinyalir pendapat McLuhan dalam (Latif dan Ibrahim, 1997:145)[7], media bagaikan perpanjangan dari sistem indra, organ syaraf kita, yang selanjutnya menjadikan dunia terasa menyempit. Lebih dari itu kekuatan media massa telah menjadi “agama” dan “Tuhan” sekuler, dalam artian perilaku orang tidak lagi ditentukan oleh agama yang dianut, tetapi tanpa kita sadari telah diatur oleh media massa, seperti program televisi.

Sebagai “agama”, televisi juga memiliki preferensi nilai dan pemihakan ideologinya sendiri. Sebagai perpanjangan gurita kapitalisme, nilai terpentingnya adalah komersial sedangkan daya hidupnya adalah “pasar”. Dengan demikian dalam doktrin televisi, budaya manusia akan dituntun dan diarahkan untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi pasar, dikemas secara komersial dalam paket-paket bisnis, dengan kiblat selera dan model utamanya pusat-pusat budaya internasional, menyangkut berbagai bidang kehidupan.

Luapan informasi banyak melahirkan variable kehidupan dan juga mematikan variable kehidupan dalam masyarakat, seperti sistim nilai sikap dan pranata sosial, perlu ada semacam pendidikan bermedia (literasi media), pertanyaan kenapa bertmedia juga harus ada pendidikanya, jawaban sederhananya dalam koteks Indonesia kita masyarakatnya sangat heterogen multi-kultur, kepercayaan dan agama.

Literasi media muncul dan mulai sering dibicarakan karena media seringkali dianggap sumber kebenaran, dan pada sisi lain, tidak banyak yang tahu bahwa media memiliki kekuasaan secara intelektual di tengah publik dan menjadi medium untuk pihak yang berkepentingan untuk memonopoli makna yang akan dilempar ke publik. Karena pekerja media bebas untuk merekonstruksikan fakta keras dalam konteks untuk kepentingan publik (pro bono publico) dan merupakan bagian dalam kebebasan pers (freedom of the press) tanggung jawab atas suatu hasil rekonstruksi fakta adalah berada pada tangan jurnalis, yang seharusnya netral dan tidak dipengaruhi oleh emosi dan pendapatnya akan narasumber, dan bukan pada narasumber. Pesan yang diproduksi, dan disampaikan media televisi sangat erat kaitannya dengan pihak yang mendanainya (Shoemaker & Reese,1996:231).[8]

Menurut Arifianto (2013)[9], Tidak seluruh masyarakat konsumen media memiliki pemahaman yang cukup memadai terhadap content media yang sekarang semakin bebas dan vulgar. Pemberdayaan masyarakat melalui literasi media memiliki konotasi penguatan pemahaman komunitas masyarakat terhadap eksistensi content media. Kepemilikan pengetahuan dan pemahaman terhadap content media diharapkan mereka dapat menentukan pilihan, dan mengedukasikan kepada komunitasnya mana informasi yang bermanfaat, dan sebaliknya. Saat ini literasi media bukan hanya sekedar wacana tanpa aksi tapi sudah menjadi kebutuhan, dan fardu ains dilaksanakan oleh semua pihak.#AS.21nov16#.

[1] Di Publikasi Kabar Banten 23 November 2016.

[2] Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Untirta, Magister Ilmu Komunikasi Univ Budi Luhur, dan Program Doktor Ilmu Komunikasi Univ Sahid Jakarta.

[3] Deddy Djamaluddin Malik. 1997. Dampak Kultural Media Massa. Dalam Buku Hegemoni Budaya. Penerbit Bentang. Yogjakarta.

[4] Ibid.

[5] Ishadi SK. 1994. Era Industri Televisi. Jurnal Komunikasi dan Pembangunan. No. 14./1994. Balitbang Departemen Penerangan RI. Jakarta.

[6] Latif, Yudi dan Ibrahim, Idi Subandy. 1997. Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam “Masyarakat Komoditas” Indonesia. Penerbit. Mizan. Bandung.

[7] Ibid.

[8] Shoemaker,Paula J & Stephen D.Reese, 1996, Mediating The Massage Theories of Influence on Mass Media Content, Second Edition, New York : Longman Publishers

[9] Arifianto. S. 2013. Literasi Media Dan Pemberdayaan Peran Kearifan Lokal Masyarakat. Peneliti Komunikasi & Budaya Media, di Puslitbang Aptika,& IKP Balitbang SDM Kementerian  Komunikasi dan Informatika.

About abdullatiefku

Check Also

Potret Perjuangan Perempuan (Dalam Sastra)

Potret Perjuangan Perempuan (Dalam Sastra) Oleh: Ahmad Sihabudin[1] Diterbitkan di Harian Kabar Banten, dalam rangka …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *