Home / KAJIAN / Kesamaan dan Perbedaan Media Sebagai Budaya dan Industri

Kesamaan dan Perbedaan Media Sebagai Budaya dan Industri

Selama ini, media lebih banyak didiskusikan dan dikaji lebih sebagai institusi masyarakat, bukan sebagai industri. Sehingga wajar jika peran media sebagai budaya dan peran media sebagai industry tidak memiliki perbedaan signifikan, jika ditinjau dari kesamaan fungsi utama dari media yang menjadi bahan kajian umum selama ini.

Melihat kajian umum di atas, sehingga kita dapat melihat media dapat melihat kesamaan media dalam membentuk budaya dan industry, sebagaimana yang tergambar dalam arti penting media massa dalam kehidupan sehari-hari menurut john Vivian dalam bukunya teori “Komunikasi Massa” (2000; Hal 4-7). Adapun hal tersebut antara lain:

Media massa memiliki jangkauan yang luas. Media massa merasuk ke dalam kehidupan modern. (Vivian; 2000, Hal 4). Hal ini sekaligus menjadikan Media massa sebagai media dan sarana untuk mempresentasikan berbagai informasi serta ide-ide yang ada kepada khalayak ramai. Keluasan jangkauan ini, menjadi media massa mudah untk mempresentasikan jenis informasi apapun melalui media massa, baik bersifat ekonomi (industry) maupun yang bersifat budaya. Isu yang terkait dengan hal ini adalah dengan pengaruh ekonomi budaya global yang terpapar secara luas dengan munculnya

Media massa sebagai Sumber Informasi. Bahwa ini fungsi dari media sbagai penyampai informasi adalah sebuah berita (News). (Vivian; 2000, Hal 5-6). Informasi tersebut berupa gagasan, budaya, maupun informasi berupa advertising (iklan) yang merupakan salah satu sarana komersial dari sisi ekonomi. Media massa tidak hanya sebagai tempat untuk persinggahan informasi saja namun juga sebagai media partner untuk menjalin komunkasi yang interaktif.

Media massa sebagai sumber Hiburan. Media massa dapat menjadi penghibur yang hebat, karna bisa mendapatkan begitu banyak audien. (Vivian; 2000, Hal 6). Hampir semua media mengandung unsur hiburan, walaupun tidak ada media yang sepenuhnya berupa hiburan. Dari aspek budaya dan industry, hiburan ini menjadi aspek kesamaan dari peran media massa. Hiburan yang terpapar secara luas dapat berpengaruh besar terhadap beragam perkembang budaya dan industry di belahan wilayah suatu Negara atau lintas Negara. Masuknya hiburan berupa Drama Korea atau Musik K-Pop, tidak hanya mempengaruhi budaya, melainkan juga ekonomi.

Forum Persuasi. Orang-orang atau lembaga dapat memanfaatkan media sebagai forum persuasi, karena dapat menyalurkan opini dan interpretasi atas informasi yang mereka terima. (Vivian; 2000, Hal 6). Hal ini termasuk menyalurkannya melalui beberapa medium yang disediakan di media massa. Secara aspek industry dan budaya, forum persuasi ini ini menjadi magnet factor dan kesamaan ciri dari media sebagai industry dan budaya. Secara tinjauan sosisial budaya misalnya: media dapat memaparkan tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kerapihan. Tapi sebagai industry, media dapat sekaligus memanfaatkannya bagi potensi iklan yang sesuai dengan produk yang mendukung hal tersebut.

Media sebagai perekat. Media massa menyatukan komunikas dengan memberikan pesa-pesan yang diterima bersama-sama. (Vivian; 2000, Hal 7).   Media dapat sebagai jendela untuk masyarakat agar bisa mengetahui tentang keadaan sekitar. Hal ini mampu mempererat hubungan antar lingkungan sekitar dan menjadikan sebagai sebuah gerakan social. Dan dibalik kegiatan social, tentunya dapat diselipkan juga motif ekenomi dan industry di dalamnya.

Kendati demikian, dari kesamaan dan integrasi fungsi media tersebut, namun pada perkembangannya, menurut McQuail (2011, hal 243) dalam bukunya, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar, mengatakan bahwa Media “bukanlah bisnis biasa”. Meski media tumbuh sebagal respons terhadap kebutuhan sosial dan budaya individu dan masyarakat, media pada umumnya dikelola sebagai perusahaan bisnis.sehingga keseimbangan fungsi dari media sebagai penyelaras budaya sudah mulai memiliki  Kecenderungan menuju ke arah ekonomi dan industry secara dominan.

“Meki media tumbuh sebagal respons terhadap kebutuhan sosial dan budaya individu dan masyarakat, media pada umumnya dikelola sebagai perusahaan bisnis. Kecenderungan menuju ke arah ini semakin meningkat pada tahun-tahun belakangan dengan beberapa alasan, khususnya karena signifikansi ekonomis dan industrial seluruh komunikasi dan informasi” McQuail (2011, hal 244)

Pergeseran peran tersebut bukanlah hal yang tiba-tiba, melainkan sebuah efek yang muncul dari beragam factor pendorong baik dalam skala local, nasional maupun global, yang kesemuanya mengarah para focus tujuan ekonomi dan kapitalisasi modal, bahkan lebih vulgar lagi, beberapa media menfokuskan kontennya sebagai sumber informasi dan referensi kapitalisasi modal. Sebagaimana tuturan Mc.Quail (2011, hal 244)  berikut:

 Diasosiasikan dengan hal tersebut adalah makin banyaknya privatisasi perusahaan-perusahaan telekomunikasi negara dan perpanjangan kegiatan mereka secara nasional dan internasional.Pergeseran pada perekonomian pasar bebas di negara-negara bekas komunis merupakan faktor tambahan. Bahkan, media yang dikelola sebagal badan publik semakin menjadikan media sebgai subjek bagi disiplin lmu finansial dan beroperasi dalam lingkungan yang penuh persaingan.masyarakat” (McQuail: 2011, hal 244)

Media sebagai sebagai ranah publik memang masih dan wajib memiliki memiliki peran dan fungsi budaya, demokrasi dan hak public untk mendapatkan halnya secara adil layaknya hak public atas udara, air dan barang public lainnya, walaupun kita juga tidak bisa mengelak bahwa kecenderungan mengarah pada fungsi media sebagai pendulang capital dan sumber ekonomi dan sumber kepentingan kekuasaan politik juga kini menjadi salah satu factor dan tulang punggung indsutri media, karena memang hal tersebut tidak lepas dari kebutuhan untk terus berkembang dan berproduksi, karena untuk menjalankan sebuah bisnis media, mutlak membutuhkan modal dan sumber ekonomi yang jelas. Namun sayangnya, kerap kali ketimpangan terjadi karena mengesampingkan fungsi media sebagai penggerak budaya. Demi kepentingan ekononomi tak jarang institusi media mengalami pergeseran yang signifikan. Dan satu hal lagi yang menjadikan media sebagai fungsi budaya dan ekonomi adalah perkembangan teknologi. Media menjadi adaptif terhadap perkembangan teknologi agar dapat bertahan.

“Ekonomi memang menjadi Kunci bagi karakter institusi media yang tidak biasa adalah bahwa aktivitasnya tidak terpisahkan secara ekonomi maupun politik, sekaligus sangat tergantung dari teknologi yang terus-menerus berubah. Aktivitas ini melibatkan produksi barang dan layanan yang sering kali bersifat pribadi (konsumsi bagi kepuasan pribadi individu) dan publik (dipandang perlu bagi bekerjanya masyarakat sebagai keseluruhan dan juga pada ranah publik). Karakter publik media diturunkan terutama dari fungsi politik media dalam demokrasi, tetapi juga dari fakta bahwa informasi, budaya, dan gagasan dianggap sebagai kepemilikan kolektif.” “(McQuail: 2011, hal 244)

Isu lain terkait denngan media sebagai industi lainnya, adalah isu tentang konglomerasi media yang menjadikan media bertumpu pada kepemilikan dari beberapa orang saja. Hal ini jelas telah menciderai kepentingan public. Dengan adanya konglomerasi dan konsentrasi media dan pemilik media dalam mempengaruh terhadap isi atau program yang disampaikan kepada masyarakat yang merepresentasikan kepentingan ekonomi maupun politik pemilik media, maka berakibat pada hilangnya kepentingan masyarakat untuk mendapatkan kebenaran. Hal itu tidak lain diakibatkan proses agenda seting dan framing yang dilakukan oleh media yang disesuaikan dengan kepentingan pemilknya. Demikian juga halnya dengan para pekerja media  yang seakan “dibelenggu” oleh “pesan-pesan” sponsor yang ikut serta mengarahpan pada konten apa yang boleh dan apa yang tidak boleh disampaikan kepada publik. Semua hal di atas, tentunya akan sangat mengancam hak warga negara atas informasi yang sepatutnya mereka dapatkan, dan menutup ruang pembelajaran politik bagi masyarakat, yang pada akhirnya mengancam praktik kepentingan public.  

Sumber :

  • McQuail, Denis. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta. Salemba Humanika.
  • Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Jakarta: Kencana. Prenada Media.

About abdullatiefku

Check Also

MEDIA MASSA/ PERS DAN KOMUNIKASI POLITIK

Salah satu aktor penting dalam demokrasi modern adalah media massa. Dalam masyarakat yang mayoritas menggunakan …

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *