Home / KAJIAN / DASAR KOMUNIKASI / PARADIGMA

PARADIGMA

Kata “paradigma” berasal dari Bahasa Yunani “paradeigma” yang berarti pola (Liliweri, 2018: 152).

Thomas S Kuhn (1962) dalam Tafsir Kontemporer Ilmu Komunikasi, Mirza Ronda (2018:3) menyatakan bahwa Paradigma sebagai “basic belief System”, atau dapat diartikan bahwa paradigm merupakan dasar dari system kepercayaan dalam pengetahuan.

Mirza Ronda (2018: 4) memperkuat pemahaman paradigma dengan menyatakan bahwa : “paradigm menjadi seperti ‘Agama pengetahun’ bagi seorang peneliti”.

Lebih jauh lagi, Kuhn (1996), dalam dalam “Paradigma penelitian ilmu Sosial” Liliweri (2018: 153), mendefinisikan paradigm sebagai: pencapaian ilmiah yang diakui secara universal yang untuk sementara waktu memberikan model masalah, model solusi bagi komunitas penelitian.

G.Chalmers (1982), dalam “Paradigma penelitian ilmu Sosial” Liliweri (2018: 153), mendefinikan paradigma sebagai : “ Pandangan dunia yang “terdiri dari asumsi dan hokum teoritis umum, dan teknik yang penerapannya diadopsi oleh anggota komunitas ilmiah tertentu”.

Denzin & Lincoln (2010), mengemukakakn tentang 3 kategori dasar keyakinan dalam paradigm, yaitu : Ontologi, Epistemologi, dan Metodologi.

Paradigma adalah basis kepercayaan utama atau metafisika dari system berpikir: basis dari ontology, epistemology, dan metodologi. Dalam pandangan filsafat, paradigm memuat pendangan-pandangan awal yang membedakan, memperjelas, dan mempertajam oreintasi berpikir seseorang. (agus salim (2006:96).

Ontologi, epistemology, dan metodologi tersebut, engan lebih detail dijelaskan oleh Liliweri (2018: 158), sebagai berikut :

  • Ontologi, yaitu teori atau studi eksistensi (keberadaan). Sebagai contoh , asumsi ontologisdalam melakukan penyelidikan dalam suatu paradigma mungkin secara khusus menrikan suatu realitas.
  • Epistemologi, yaitu teori pengetahuan yang berhubungan dengan sifat pengetahuan, ruang lingkupnya dan menyediakan perangkat kriteria untk mengevaluasi klaim pengetahuan dan menetapkan apakah klaim tersebut dijamin.
  • Metodologi, yaitu prosedur di mana pengetahun harus dihasilkan.

Dari semua pemahaman tentang paradigm di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa paradigm merupakan sebuah dasar dari system kepercayaan dalam ilmu pengetahuan, maka paradigma ini  menjadi penting digunakan dalam setiap aktifitas penelitian.  Paradigm penelitian menyajikan pada kita tentang apa yang harus diteliti, apa yang harus dilakukan oleh peneliti, apa saja yang menjadi cakupan dari penelitian, termasuk menjelaskan apa saja yang berada di luar batasan kajian dalam penelitian. Dengan kata lain, paradigm membawa konsekuensi praktis bagi perilaku, cara berpikir, interpretasi, dan kebijakan dama memiilih masalah, mencari jalan penyelasain masalah, dan menyimpulkan masalah dan solusi yang ingin diungkap.

Adapun paradigm-paradigma yang dimaksud anatara lain sebagaimana yang dikemukakan Liliweri (2018) dalam buku “paradigm Penelitian Ilmu Sosial”  : paradigm Positivisme, postpositivisme, Anti-positifisme, interpretivis, Critical Theory, Konstuktivisme, PostModern, Pragmatisme, Fenimisme. Liliweri.

Sumber :

  • Salim, Agus. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Buku sumber untuk penelitian kualitatif. Edisi Kedua. Yogyakarta. Tiara Wacana.
  • Denzin, Norman K, dan Lincoln, Y.Vonna S. 2010. Handbook of Qualititive Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Liliweri, Alo . 2018. Paradigma Penelitian Ilmu Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.  
  • Ronda, Andi Mirza. 2018. Tafsir Kontemporer Ilmu Komunikasi. Tangerang: Indigo Media.
  • Littlejohn, Stephen W dan Foss, Karen A. 2009. Teori Komunikasi (edisi 9). Jakarta: Salemba Humanika.

About abdullatiefku

Check Also

Komunikasi Sebagai Proses Sosial

Dalam hubungannya dengan proses sosial, komunikasi menjadi sebuah cara dalam melakukan perubahan sosial (social change). …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *