Home / KAJIAN / Media & Jurnalisme : Berdasarkan Tinjuan Sejarah

Media & Jurnalisme : Berdasarkan Tinjuan Sejarah

Oleh : Abdul Latief           

Bahwa proses komunikasi massa dengan media adalah hal yang tidak terpisahkan. Hal ini sebagai bagaimana diutarakan oleh Denis McQuail dalam bukunya ”Teori Komunikasi Massa”, Dennis Mcquail (2011: Hal 26), bahwa hal itu terjadi karena :

Peristiwa komunikasi manusia Yang berjarak waktu dan tempat, jauh lebih tua daripada bentuk-bentuk media massa yan kini digunakan. Proses ini penting bagi penyelenggaraan masyarakat yang terdahulu yang berlangsung pada rentang waktu yang lama dan kemudian meluas ke wilayah yang lebih besar. Bahkan elemen dari penyebaran ide skala besar (massal) terjadi baran mengenai kesadaran dan kewajiban sangat-sangat lampau, yaitu pada politik serta agama.”

Dennis Mcquail (2011: Hal 26) juga menuturkan bahwa salah awal abad pertengahan, media massa sudah digunakan secara masig dan lengkap yang digunakan secara efektif oleh pihak gereja di Eropa untuk melakukan penyiaran kepada khalayak luas tentang berbagai macam informasi dan pesan yang ingin disampaikan, walaupun bentuknya sebagian besarmya bebas dari bentuk media’ seperti pengertian kita saat ini, terlepas dari adanya teks yang berkaitan dengan agama.

            Perkembangan media yang sudah dimulai secara terstruktur oleh pihak gereja dan penguasa saat itu, sempat terusik kedigdayaannya dengan mulai munculkan pengelolaan media massa yang bersifat independent atau swasta, dan memuat konten yang beragam bahkan beberapa propaganda yang mengusik pihak gereja dan pemerintah juga menambah kontroversi dan persaingan pertumbukan media massa saat itu. Semua peristiwa penyebaran informasi melalui media secara luas itulah bagian dari sejarah yang tidak terpisahkan dari kajian dunia jurnalisme. Sebagaimana yang dituturkan oleh Dennis Mcquail (2011: Hal 26) :

“Ketika media independen muncul dalam bentuk cetak, penguasa gereja dan negara bereaksi dengar kepanikan akan munculnya potensi kehilangan kontrol yang diwakili media, dan pada kesempatan yang semakin terbuka untuk menyebarkan ide-ide yang baru dan menyimpang Propaganda hitam yang dilancarkan pada masa perang agama yang terjadi pada abad ke-16 sudah cukup menjadi bukti. Hal tersebut merupakan peristiwa bersejarah ketika teknologi komunikasi massa, yaitu pers cetak memperoleh definisi sosial dan budaya tertentu yang tidak dapat ditarik kembali.”

            Menurut Denis McQuail (2011), bahwa dalam memaparkan kisah sejarah media dan jurnalistik, kita tidak bisa lepas dari empat elemen utama yang signifikan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas, yaitu:

  1. tujuan, kebutuhan, atau penggunaan komunikasi tertentu;
  2. teknologi untuk berkomunikasi kepada massa dengan adanya jarak
  3. bentuk-bentuk organisasi sosial yang menyediakan keahlian dan kerangka untulk mengatur produksi dan distribusi;
  4. bentuk-bentuk peraturan dan kontrol. (McQuail: 2011, Hal 26).

            Dalam sejarah perkembangan media massa, Elemen-elemen tersebut tidak mengharuskan memiliki hubungan yang kaku yang terkait antara satu elemen dengan elemen lainyaa. Melainkan hal tersebut sangat tergantung pada situasi dan kondisi yang ada terkait juga dengan keadaan waktu dan tempat.

            Perkembangan sejarah media dan jurnalistik juga sangat tergantung pada perkembangan sebuah teknologi komunikasi yang berhasil dikembangkan, dan diterapkan yang disesuaikan dengan kebutuhan para penggunanya, yang biasanya sudah terlebih dahulu. dan keberadaannya bisa sebagai pengganti teknologi yang lama, atau malah menjadi pelengkap dari teknologi yang baru. Atau kemunculannya juga bisa diawali dengan kebutuhan dari khalayak, atau teknologi itu terlebih dahulu yang ada, baru kemudian memunculkan kebutuhan yang diadopsi penggunaanya oleh para khalayak sebagai pengguna yang akhirnya menjadikanya sebagai kebutuhan. Hal ini sebagaimana yang dipaparkan oleh Denis McQuail (2011: 27) :

“ ….seperti teknologi cetak menggantikan salin tangan atau telegraf menggantikan perpindahan fisik dari pesan penting Namup, terkadang teknologi seperti film, televise atau siaran radio yang muncul mendahulri-adanya kebutuhan yang jelas. Kombinasi elemen-elemen di atas yang sesungguhnya terjadi biasanya tergantung baik pada faktor bahan maupun ciri dari iklim sosial budaya yang sulit dijelaskan. Meskipun demikiar, sangat mungkin bahwa pada derajat tertentu dari kebebasan berpikir, berekspresi, dan bertindak merupakan kondisi utama yang paling penting bagi perkembangan media cetak dan media lainnya, walaupun tidak demikian pada saat penemuan awal…”  

            Dalam sejarah perkembangan media dan Jurnalisme, didapatkan sebuah kecenderungan bahwa semakin terbuka dan universal suatu masyarakat dan pemerintahan, juga menentukan perkembangan dan kemajuan dari teknologi media dan adaptasi terhadapi dunia jurnalistik akan semakin maju, pun demikian juga sebaliknya, bahwa semakin tertutup dan represif sebuah masyarakat atau pemerintahan, maka akan berpengaruh terhadap perkembangan media dan jurnalistik.  Hal ini karena adanya pembatasan secara ketat terkait dengan riset, pemanfaataan, produksi dan elemen-elemen lainnya yang menunjang perkembangan media dan dunia jurnalisme. Sebagaimana paparan McQuail (2011, 27)

Secara umum jika suatu masyarakat semakin terbuka, semakin muncul kecenderungan untuk mengembangkan teknologi komuntkast kepada potensi tertingginya, terutama dalam artian tersedia secara universal dan digunakan secara luas. Rezim yang lebih tertutup atau represif biasanya akan membatasi perkembangan atau menetapkan batasan yang ketat terhadap penggunaan teknologi media.

            Dalam perkembangan sejarah media massa dan jurnalisme, terdapat banyak pemeparan tentang sejarah dan sudut pandang barat, karena menurut Mc.Quail (2011, 27)  awal perkembangan media massa dan jurnalisme berkembang sangat pesat di sebagai besar di wilayah barat yaitu daerah Eropa dan Amerika Utara, yang kemudian diadopsi perkembangannya di sebagian besar wilayah di seluruh dunia mengambil dan menerapkan teknologi yang sama dengan cara yang serupa.

            Namun McQuail (2011: 27) menekankan bahwa tidak ada alasan media dan jurnalisme harus mengikuti satu pola yang sama dan seragam, hal tersebut dikarenakan setiap wilayah dan masyarakat memiliki berbedaan ciri khas budaya dan keragamannya sendiri yang belum tentu tepat mengadopsi satu pola yang sama: 

Tidak ada alsan mengapa media massa harus mengikuti mengapa media massa perlu mengikuti hanya satu cara di masa depan yang selalu terpusat pada model Barat. Ada beragam kemungkinan dan sangat mungkin bahwa perbedaan budaya akan mengalahkan kepentingan teknologi. Sejarah media telah menunjukkan beberapa perbedaan yang penting di dalam masyarakat, misalnya keragaman yang luas dari pembaca buku dan surat kabar, atau pada tingkatan dan kecepatan penyebaran Internet. (McQuail: 2011, Hal 27).

Perkembangan Media Cetak dan Jurnalisme

            Sejarah perkembangan media massa dan jurnalisme cetak tidak lepas dari ditemukannya mesin cetak oleh Getenberg di Eropa pada Abad ke-15. Yang kemudian berlanjut dengan berkembangnya media cetak lainnya seperti famplet, buku, bulletin, dan media massa lainnya. Dan melalui perkembangin ini, kemudian berkembanglah dunia jurnalistik dengan memanfaatkan beragam media cetak ini sebagai sumber utama menyebarkan berita dan informasi. Memang jurnalistik bukanlah awal pemicu ditemukannya mesin cetak, melaiunkan aktifitas berbasis komersial yang mengawali perkembangan dunia cetak.

Dua ratus tahun setelah penemuan mesin cetak munculah apa yang kita kenal ng ni sepertinya adalah surat alih-alih buku-buletin yang tersebar melalui sistem layanan pos yang terutama berisi tentang peristiwa baru yang berkaitan dengan kegiatan perdagangan dan jual-beli internasional (Raymond, 1999), Aktivitas ini merupakan perluasan dari aktivitas yang lama dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan diplomatik, komersial, maupun pribadi. Sural kabár awal ditandai dengan kemunculannya yang berkala dengan basis komersial (dijual untuk umum) dan karakternya terbuka. Jadi. surat kabar tersebut digunakan untuk informasi, rekaman, iklan, isu pengalihan, dan juga gossip. (McQuail: 2011, Hal 30).

            Menurut McQuail (2011, Hal 30).Surat kabar komersial pada abad ke-17 tidak diindetifikasi dengan satu sumber tertentu, tetapi merupakan kumpulan yang dibuat oleh penerbit-pencetak. Surat kabar komersial adalah varian bangannya dapat dilihat dalam sejarah sebagai sebuah peristiwa besar dalam sejarah komunikasi yang menawarkan layanan pada pembaca yang tidak dikenal alih-alih sebagai instrumen yang membentuk sebagian besar lembaga surat kabar, dan propaganda pemerintah. Surat kabar dianggap sebagai bentuk inovasi yang lebih baik daripada buku yang dicetak, karena jika dibandingkan dengan bentuk komunikasi budaya yang lain, terletak pada orientasinya kepada pembaca individu dan kepada realitas, kegunaannya, sifatnya yang sekular, dan cocok bagi kebutuhan kelas yang baru: pelaku bisnis yang berbasis di kota kecil. (McQuail: 2011, Hal 30).

Perkembangan Media Penyaiaran (TV dan radio) dan Jurnalisme

Perkembangan Jurnalime berikutnya adalah merambah ke dalam media massa berupa media penyiaran yaitu berupa  Televisi dan Radio.

Televisi dan radio telah memiliki kurang lebih sembilan puluh dan enam puluh tahun lebih berperan dalam sejarah sebagai media massa, dan keduanya tumbuh dari teknologi yang ada sebelumnya-telepon, telegraf, fotografi bergerak atau diam, dan rekaman suara. (McQuail: 2011, Hal 37).

            Tidak seperti semua bentuk teknologi komunikasi sebelumnya, radio dan televise memliki jangkauan lebih luas dan penyebaran konten lebih menarik karena dipadukan dengan suara (untuk radio) dan gambar (untuk Televisi). Dengan adanya televise dan radio, maka penyebaran informasi dalam jurnalistik menjadi lebih variatif, luas, dan menarik. Sehingga TV dan Radio menjadi media favorit masyarakat diberagam belahan dunia.

 Radio dan televisi adalah sistem yang dirancang bagi proses abstrak penyebaran dan penerima dengan sedikit atau tanpa konten yang jelas Keduanya hanya meminjam dari media yang telah ada sebelumnya, dan bentuk konten mereka yang populer datang dari musik, cerita feater, berita, dan olahraga. (McQuail: 2011, Hal 38).

            Namun demikina, Televisi dan radio sebagai media massa memiliki tantangannya sendiri terhadap dunia jurnalisme, bahwa karakteristik dari televisi dan radio ini sangat memungkinkan untk terjadinya intervensi dan control berlebih dari kekuasaan, termasuk rentan dengan pasokan informasi dan propaganda terpusat yang pada akhirnya membelengkap pers dan dunia jurnalisme dalam mengekspresikan kebebasan informasi yang menajdi hak umat manusia. Dan sangat rentan dijadikan alat yang melanggengkan kekuasaan dan menjadi belenggu bagi masyarakat oleh para penguasa.

Ciri utama dari radio dan televisi adalah besarnya peraturan, kontrol.atau lisensi oleh penguasa yang awalnya datang dari kebutuhan teknis, kemudian dari campuran antara pilihan dernokratis. kepentingan negara, kenyamanan ekonomi, dan budara lembaga yang bebas. ciri yang kedua dari radio dan televisi adalah pola distribusi yang terpusat dengan pasokan datang dari pusat kota tanpa adanya arus timbal balik Barangkali karena kedekatan mereka dengan kekuasaan, radio dan televisi sult mendapatkan kebebasan yang sama, seperti yang dimiliki pers, untuk mengekspresiłan pandangan dan tindakan dengan kebebasan berpolitik. Penyiaran dianggap terlalu memiliki pengaruh yang kuat untuk jatuh ke tangan kepentingan tertentu tanpa batasan jelas dalam melindungi publik dari bahaya atau manipulasi yang potensial. (McQuail: 2011, Hal 38)

Perkembangan Media Digital (media baru) dan Jurnalisme.

Perkembangan berikutnya dari dunia jurnalisme adalah memasuki era baru yang disebut dengan era media digital atau media baru yang masuk dalam kehidupan umat manusia, sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan begitu pesat. Media baru ini ditandai dengan hadirnya media seperti internet yang membuat banyak aplikasi dan media yang juga ikut mengubah kehidupan kita, termasuk dunia jurnalisme

Denis McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi Massa (2011: hal 150) menyatakan bahwa “aspek mendasar dari teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berangkat dari Fakta Digitalisasi. Proses di mana semua teks (makna simbolik dalam bentuk yang telah direkam dan dikodekan) dapat dikurangi menjadi kode biner dan dapat mengalami proses produksi, distribusi, dan penyimpanan yang sama. Konsekuensi potensial yang paling terkenal dari lembaga media adalah konvergensi antara semua bentuk media dalam kaitannya dengan pengaturan, distribusi, penerimaan, dan regulasi mereka.”

Dengan munculnya media baru ini, tentunya menyajikan tantangannya sendiri dan memunculkan banyak kajian terkait dengan hal tersebut. Antara lain apakah munculnya media baru ini akan menggantikan media lama. Hal ini sebagaimana yang dituturkan oleh McQuail (2011: hal 150) : “Media Elektronik baru, dapat dilihat sebgai tambahan atas spektrum yang sudah ada, alih-alih sebagai pengganti”.

Intinya, dengan munculnya teknologi ini, maka muncullah isitilah baru yang disebut dengan media digital yang dapat kita sebut dalam kajian media sebagai “media baru”. Dengan adanya media baru ini berimplikasi pada banyak bidang kehidupan antaran lain pendidikan, pemerintahan, pemasaran, dan lain sebagainya.

Media baru sendiri memiliki banyak pengertian, antara lain sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Denis McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi Massa (2011;hal 148). Ia menamakan media baru sebagai “berbagai perangkat teknologi komunikasi yang berbagi ciri yang sama, yang mana, selain baru dimungkinkan dengan digitaliasi dan ketersediannya yang luas untuk penggunaan pribadi sebagai alat komunikasi”

Dengan kata lain bahwa, media digital atau media baru ini adalah media telematik yang merupakan perangkat teknologi elektronik yang berbeda dengan penggunaan yang berbeda pula.

Fokus perhatian utama dari medai digital (media baru) ini adalah aktifitas kolektif bersama yang berjudul  Internet, terutama pada penggunaan public seperti berita daring, iklan, aplikasi penyiiaran (termasuk mengunduh musuk dan lain-lain) forum dan aktifitas diskusi, worlrd wide web (www), pencarian informasi, dan potensi pembentukan komunikasi tertentu. (McQuail, 2011: 148)

Intinya, sebagaimana yang dikatakan oleh McQuail (2011; hal 151), bahwa perbedaan media baru dan media lama adalah pada kata kunci, bahwa media baru menggunakan internet untuk menggabungkan antara radio, film, televise, dan menyebarkan nya melalui teknologi.

Media baru mengabaikan batasan percetakan dan model penyiaran dengan 1) Memungkinkan terjadinya percakapan antara banyak pihak. 2) memungkinkan peneriamaan secara simultan, perubahan dan penyebaran objek-objek budaya; 3) mengganggu tindakan komunikasi dari posisi pentingya, dari kehubungan kewilayahan modernintas. 4). Menyediakan kontak global seara instan. 5) memasukan subjek moden ke dalam mesin apparat yang berjaringan. McQuail (2011; hal 151)

Selain itu, sebagaimana yang dikatakan oleh McQuail (2011; hal 157), bahwa media baru menyajikan banyak perbedaan signfikan yang pada akhirnya mengubah pola perilaku. Antara lain bahwa karakteristik kunci untuk membedakan media lama dengan media baru dalam perspektif pengguna adalah sebagai berikut :

  1. Interaktiiftas (interactivity) sebagaimana ditujukan oleh rasio respon atau inisiatif dari sudah pandang pengguna terhadap penawaran sumber atau pengirim.
  2. Kahadiran social atau sosiabilitas. Dialami oleh pengguna, berari kontak personal dengan orang lain dapat dimunculkan oleh penggunakan media.
  3. Kekayaan media. (media Richness) ; jangkauan di mana media dapat menjembatani kerangka referensi yang berbeda, mengurani ambiguitas, memberikan banyak petunjuk, melibatkan lebih banyak indera, dan lebih personal.
  4. Otonomi: derajat dimana seorang pengguna merasakan kendali atas konten dan penggunaan, mandiri dari sumber.
  5. Unsur bermain (playfulness): kegunaan untuk hiburan dan kesenangan, sebagai lawan dari sifat fungsi dan alat
  6. Privasi : berhubungan dengan kegunaan media dan/atau konten tertentu
  7. Personalisasi. Derajat di mana konten dan penggunaan menjadi personal dan unit.

SUMBER REFERENSI :

  • Eadie, William F. 2009. 21st century communication : a reference handbook. Thousand Oaks, California : SAGE Publications, Inc.
  • McQuail Denis. 2011.  Teori Komunikasi. Edisi 6. Buku 1. Jakarta. Salemba Humanika.

About abdullatiefku

Check Also

Kedaulatan Bahasa Indonesia

Kedaulatan Bahasa Indonesia[1] 0leh: Ahmad Sihabudin[2] Terinspirasi dari acara Konfrensi Nasional Komunikasi [KNK] yang diselenggarakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *